Dari Sampah Menjadi Rupiah, Warga Bausasran Kembangkan Budidaya Maggot

Senin 24-08-2026,17:03 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

Maggot tersebut dijual kepada pemancing dengan harga sekitar Rp10.000 per kilogram di tingkat pengelola. Dengan produksi tiga hingga empat kilogram per hari, nilai ekonominya dapat mencapai sekitar Rp30.000 hingga Rp40.000 per hari.

BACA JUGA : DLH Gunungkidul Krisis SDM, Target TPA Bebas Sampah Organik Agustus 2026 Tetap Dikejar

BACA JUGA : Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga di Kota Yogyakarta Melonjak, Tembus 47,68 Ton per Hari

“Rata-rata kita bisa menghasilkan tiga sampai empat kilo per hari. Kalau dihitung Rp10.000 per kilo, berarti sekitar Rp30.000 sampai Rp40.000 per hari,” kata Sandi.

Permintaan maggot juga datang dari para pemancing di wilayah perkotaan. Mereka datang langsung ke Bank Sampah Sekar Arum untuk membeli maggot sebagai umpan. Sementara harga di tingkat penjual kembali dapat mencapai sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Menariknya, hampir tidak ada bagian dari siklus budidaya yang terbuang. Maggot yang tidak langsung dipasarkan dapat diteruskan ke tahap pupa hingga menjadi lalat BSF untuk kembali menghasilkan telur.

Selain menghasilkan maggot, pemanfaatannya sebagai pakan juga berdampak pada produktivitas ternak. Sandi mencontohkan budidaya bebek yang dikembangkan warga.

BACA JUGA : Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga di Kota Yogyakarta Melonjak, Tembus 47,68 Ton per Hari

BACA JUGA : Viral!! Wakil Rektor UNY Sebut 'Ini Kotor, Ini Sampah' saat Mahasiswa Berunjuk Rasa

Dari sekitar delapan ekor bebek, sebelum mendapatkan tambahan maggot, jumlah bebek yang bertelur rata-rata hanya sekitar tiga hingga empat ekor. Setelah diberi tambahan maggot sebagai pakan, produktivitas meningkat hingga enam bahkan tujuh ekor yang bertelur.

“Kalau tidak dikasih magot, dari delapan bebek paling yang bertelur hanya tiga atau empat. Kalau dikasih magot bisa sampai enam atau tujuh yang bertelur,” ujarnya.

Pengembangan budidaya maggot tersebut menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat diarahkan menjadi kegiatan produktif. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan justru dimanfaatkan sebagai sumber pakan, pupuk, sekaligus komoditas bernilai ekonomi.

Sementara sampah anorganik tetap dipilah dan dijual untuk selanjutnya masuk dalam proses daur ulang. Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah tidak berhenti pada upaya mengurangi volume sampah, tetapi berkembang menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kategori :