Dari Sampah Menjadi Rupiah, Warga Bausasran Kembangkan Budidaya Maggot

Senin 24-08-2026,17:03 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah. Di tengah persoalan sampah perkotaan, warga Bausasran, Kota Yogyakarta, mengembangkan pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat dengan mengubah sampah organik menjadi media budidaya maggot yang memiliki nilai ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan melalui Bank Sampah Sekar Arum di wilayah Bausasran. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah menjadi sampah anorganik dan organik. Sampah anorganik kemudian dijual untuk proses daur ulang, sedangkan sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF).

Salah seorang pendamping masyarakat dari Rumah Zakat Sandi Junaidi, mengatakan pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Untuk yang organik ini diberikan ke maggot, karena maggot merupakan salah satu pengurai sampah yang paling cepat dan efektif,” ujar Sandi kepada diswayjogja, senin (24/8)

BACA JUGA : Danantara Investasi Rp3 Triliun untuk PSEL Piyungan, Olah 1.000 Ton Sampah per Hari

BACA JUGA : Forum Bank Sampah Giwangan, Ikhtiar Hidup Bersih dan Menambah Tabungan Warga Giwangan

Menurutnya, budidaya maggot yang dikembangkan warga tidak hanya menghasilkan maggot sebagai pakan, tetapi telah membentuk sebuah siklus ekonomi dan lingkungan yang saling berkaitan.

Maggot yang dipanen dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan bebek. Dengan demikian, kebutuhan pakan ternak dapat ditekan karena sebagian digantikan oleh maggot hasil budidaya sendiri.

“Magotnya bisa memberikan pakan gratis, baik untuk lele maupun bebek, sehingga bebek dan lele tidak lagi terlalu bergantung pada pakan pelet,” katanya.

Sementara itu, sisa media budidaya maggot atau yang dikenal sebagai kasgot juga tidak dibuang. Limbah tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk oleh kelompok tani sehingga menghasilkan manfaat lanjutan dari proses pengolahan sampah organik.

BACA JUGA : Dari Riset Kampus, Jogja Life Cycle Sulap Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomis

BACA JUGA : Sudah 5 Kebakaran Lahan Sepanjang 2026 di Kota Jogja, Warga Diminta Stop Bakar Sampah

Sandi menjelaskan, budidaya maggot di Bausasran mulai berjalan sekitar Maret 2025. Dalam perkembangannya, masyarakat telah mampu menjalankan siklus budidaya mulai dari lalat BSF bertelur, menghasilkan larva atau maggot, hingga maggot dipanen dan dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan.

“Sudah menjadi siklus. Mulai dari BSF bertelur, kemudian menjadi maggot, hasil maggot dimanfaatkan, sebagian dikembangkan kembali menjadi lalat untuk menghasilkan telur berikutnya,” jelasnya.

Dari sisi ekonomi, budidaya tersebut juga memberikan tambahan pendapatan. Dalam sehari, produksi maggot dapat mencapai sekitar tiga hingga empat kilogram, bahkan pada kondisi tertentu bisa mencapai lima kilogram.

Kategori :