Ini Modus Konferensi Ilmiah Abal-abal, Akademisi Diminta Jangan Sampai Tertipu

Rabu 05-08-2026,19:18 WIB
Reporter : Anam AK
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Maraknya konferensi ilmiah yang diduga predator atau abal-abal menjadi perhatian kalangan akademisi. 

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Achmad Nurmandi, mengingatkan dosen, peneliti, hingga mahasiswa agar lebih teliti sebelum mengikuti konferensi ilmiah karena tidak sedikit penyelenggara yang hanya mengejar keuntungan finansial tanpa menjalankan proses akademik yang semestinya.

Menurutnya, ciri utama konferensi abal-abal adalah tidak adanya proses peer review atau telaah ilmiah terhadap artikel yang dikirim peserta.

"Konferensi abal-abal itu konferensi yang hanya mengumpulkan uang, tetapi tidak ada proses review, proses akademik. Biasanya paper yang masuk ke panitia konferensi itu direview. Kalau ke jurnal juga direview. Jadi bukan masalah duitnya, tetapi harus melalui proses akademik," ujar Nurmandi ditemui di kampus UMY, Rabu (5/8/2026).

BACA JUGA : Konferensi Internasional UMY Bahas Perdamaian Dunia, Dubes Michael Trias Sebut Pentingnya Religious Diplomacy

BACA JUGA : 525 Guru Besar UGM Siap Rumuskan Naskah Akademik dan Kajian Strategis untuk Pemerintah

Dia menjelaskan, biaya dalam penyelenggaraan konferensi sebenarnya merupakan hal yang wajar, misalnya untuk konsumsi atau biaya pemrosesan artikel (Article Processing Charge/APC). Namun biaya tersebut harus diikuti mekanisme akademik yang benar.

"Yang dimaksud abal-abal itu konferensi yang tidak melalui proses akademik yang baik. Tidak pernah direview, langsung dipublikasikan, dan tidak diterbitkan di jurnal yang bereputasi," katanya.

Nurmandi mengungkapkan, konferensi predator juga kerap mencatut nama perguruan tinggi maupun akademisi ternama agar terlihat kredibel di mata calon peserta.

"Sering mencatut nama-nama seseorang atau universitas tertentu yang punya reputasi sehingga seolah-olah konferensi itu diselenggarakan oleh kampus tersebut," jelasnya.

BACA JUGA : Naskah Kuno Kadipaten Pakualaman Dirawat Berkala, dari Tradisional hingga Digitalisasi

BACA JUGA : Buku Cetak Tak Lagi Dominan? Begini Masa Depan Perpustakaan Indonesia Menurut Perpusnas

Akibat praktik tersebut, menurutnya, reputasi perguruan tinggi dapat ikut tercoreng meskipun sebenarnya tidak terlibat sama sekali.

"Itu bisa merugikan kampus. Bisa juga menggunakan nama seseorang tanpa yang bersangkutan mengetahui," tegasnya.

Untuk mencegah hal serupa terjadi di lingkungan kampus, UMY menerapkan mekanisme pengawasan yang ketat terhadap seluruh konferensi ilmiah yang menggunakan nama universitas.

Kategori :