Revitalisasi Posyandu Jadi Langkah Hargobinangun Tekan Stunting

Rabu 05-08-2026,17:20 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

SLEMAN, diswayjogja.id – Pemerintah Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, pada Selasa (4/8) menguatkan upaya percepatan penurunan stunting dengan meresmikan hasil revitalisasi Posyandu Matahari di Kaliurang Barat. Revitalisasi yang didukung Yayasan Rabu Biru dan Bank BRI tersebut dilakukan melalui pembenahan bangunan, penyediaan sarana pendukung, serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak untuk mengawal 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sekaligus menekan jumlah kasus stunting yang saat ini masih tercatat 17 anak di Kalurahan Hargobinangun.

Posyandu Matahari memanfaatkan bangunan bekas barak pengungsian yang sudah tidak lagi digunakan. Kini, bangunan tersebut disulap menjadi fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih representatif untuk mendukung kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita, pelayanan ibu hamil, hingga edukasi gizi bagi masyarakat.

Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, mengatakan pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala menjadi langkah paling penting dalam mencegah stunting. Menurutnya, kader posyandu memiliki peran strategis dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan anak sejak dini.

"Pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala menjadi kunci utama mencegah stunting, terutama dalam mengawal periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Saat ini masih ada 17 anak yang mengalami stunting di Hargobinangun dan kami terus berupaya menurunkannya melalui penguatan layanan posyandu," ujar Amin Sarjito.

BACA JUGA : Wamenkes Soroti Kekurangan Tenaga Gizi untuk Dukung Program Stunting

BACA JUGA : Stunting Sleman Turun Jadi 4,29 Persen, Pemkab Evaluasi Ulang Strategi Penanganan

Salah seorang warga, Yani, mengaku pelayanan di Posyandu Matahari kini menjadi lebih nyaman setelah direvitalisasi.

"Tempatnya sekarang lebih bagus dan nyaman. Kami jadi lebih semangat membawa anak ke posyandu setiap bulan untuk diperiksa," katanya.

Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Niken Wastu Palupi, menegaskan bahwa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan fase yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

"Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan masa emas yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, serta produktivitas seseorang di masa depan," ujar Niken.

BACA JUGA : Sleman Tekan Risiko Stunting, Air Bersih dan Lingkungan Jadi Fokus Utama

BACA JUGA : Tradisi Mitoni Jadi Inovasi Budaya untuk Cegah Stunting di Kota Yogyakarta

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyatakan pemerintah daerah terus mendorong penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat sebagai salah satu strategi percepatan penurunan stunting. Menurutnya, kolaborasi pemerintah, kader posyandu, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta berada di kisaran 14 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Meski demikian, pemerintah daerah terus mengoptimalkan berbagai intervensi, mulai dari pemenuhan gizi ibu hamil, pemantauan pertumbuhan balita, hingga penguatan layanan posyandu di tingkat kalurahan agar target penurunan stunting nasional dapat tercapai.

Kategori :