SLEMAN, diswayjogja.id - Di balik tiga gugusan bukit lempung di perbatasan Kapanewon Godean dan Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terbentang 4 hektar lebih hamparan tanaman lidah buaya. Tertata rapi diantara tanaman padi milik petani di kanan kirinya, tanaman lidah buaya terlihat sangat berbeda.
Budidaya lidah buaya atau aloe vera sistem organik ini milik seorang petani bernama Suharyanto. Petani asal Dusun Jlegongan, Kurahan Kidul, Margodadi, Seyegan, Sleman ini berhasil mengembangkan usaha budidaya lidah buaya secara berkelanjutan.
Berawal dari ketekunan dan pengelolaan yang baik selama 6 tahun, Suharyanto kini mengelola lahan budidaya lebih dari 4,3 hektar. 2,3 hektar lahannya dan 2 hektar lahan yang dimiliki mitra petani di sekitarnya. Menurutnya budidaya tanaman lidah buaya sangat menjanjikan. Lidah buaya memiliki banyak keunggulan dibanding tanaman lainnya. Selain perawatannya relatif mudah, tanaman ini juga memiliki usia produktif yang panjang hingga 8 tahun hanya dengan sekali tanam. Dan yang semakin membuatnya memilih budidaya lidah buaya, di Sleman maupun DIY belum banyak yang melirik untuk membudidayakannya.
“Perawatannya mudah, tahan lama, pasarnya jelas, dan pesaingnya masih relatif sedikit, terutama yang banyak orang tidak tahu adalah usia tanaman bisa mencapai 8 tahun dalam satu kali masa tanam” ujarnya.
BACA JUGA : Kuliner Legendaris Bogor Jadi Rekomendasi Doclang Enak dan Murah Mulai Rp9 Ribuan
BACA JUGA : Wisata Edukasi Kulon Progo Terbaru, Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Lewat Sungai Hargotirto
Serangan penyakit untuk tanaman lidah buaya juga relatif minim jika dibandingkan dengan tanaman budidaya yang lain. Serangan hewan perusak tanaman menurut Suharyanto juga jarang menyambangi tanaman Lidah Buaya.
“ selain hama penyakit, kalau tanaman seperti padi atau komoditas palawija lainnya sangat rawan diserang tikus, lidah buaya ini tikus tidak mau,” ujarnya
Dari luasan lahan yang dikelolanya rata rata setiap hari bisa panen sebanyak 100 – 200 kilogram. Hasil panen lidah buaya dari kebunnya rutin diserap pasar modern di wilayah Yogyakarta. Setiap pekan, sekitar 300-600 kilogram lidah buaya dikirim ke pasar ritel. Yang dikirim pelepah lidah buaya dengan Grade A sedangkan untuk grade B dikirim ke industri rekanannya di Gunungkidul dan kulonprogo untuk dibuat gel maupun produk minuman Kesehatan yang diolah dalam bentuk bubuk.
BACA JUGA : Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Madiun Paling Populer yang Wajib Dibawa Pulang
BACA JUGA : Polisi Pastikan 11 Bayi di Sleman Dikembalikan ke Orang Tua, Dugaan Pelanggaran Masih Didalami
Untuk membedakan grade bisa dilihat dari tampilan dan berat. Untuk grade A tampilan pelepah hijau mulus dengan permukaannya cenderung tebal dan cembung. Sedangkan untuk grade B pelepah kadang terdapat bercak hitam maupun putih. Untuk bobot, grade A berat diatas 320 gram sedangkan grade B di bawah 320 gram.
Pelepah lidah buaya juga dijual eceran jika ada masyarakat ingin membeli. Dijual dengan harga 7 ribu perkilo untuk grade A dan 5 ribu untuk grade B.
Dengan pengaturan pola tanam dan panen yang baik, produksi lidah buaya dapat berlangsung stabil sepanjang tahun. Setiap hari selalu ada tanaman yang siap dipanen.
Suharyanto menilai prospek budidaya lidah buaya masih sangat terbuka, terutama di wilayah Seyegan dan Godean yang memiliki kondisi lahan cocok untuk pengembangan tanaman tersebut.
Budidaya lidah buaya yang dikembangkan Suharyanto menjadi contoh usaha pertanian modern yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
BACA JUGA : Wisata Kuliner Surabaya 2026 Ini Daftar Cafe dan Resto Terbaru Paling Estetik
BACA JUGA : Pesona Pantai Jatikontal Purworejo, Surga Senja dan Wisata Kuliner Seafood yang Menggoda