Seakan Terabaikan, Pelaku Wisata Bantul Barat Unjuk Gigi
Para peserta dari pelaku wisata tiga propinsi-dhani-dhani
BANTUL, diswayjogja — Puluhan pelaku jasa wisata dari tiga provinsi yakni DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur berkumpul di Sate Om Thamrin, untuk mengikuti tur wisata menjelajahi destinasi-destinasi wisata di wilayah Bantul bagian barat, Rabu (20/5/2026)
Dihadiri kepala dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkenalkan potensi wisata Bantul Barat yang selama ini dinilai masih minim tersentuh wisatawan. Ini adalah gerakan nyata atas keprihatinan para pelaku wisata di wilayah Bantul barat terhadap minimnya kunjungan wisata di wilayah ini. Padahal, Bantul barat ini dikenal memiliki beragam potensi wisata mulai dari bentang alam, budaya dan tradisi, hingga kerajinan serta kuliner khas yang sebenarnya juga layak untuk dikunjungi.
Hal ini beralasan, berdasarkan data Dinas Pariwisata Bantul tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bantul mencapai sekitar 1,8 juta orang. Kunjungan tersebut masih terkonsentrasi pada tiga kluster utama, yakni kawasan pesisir dengan ikon Pantai Parangtritis, kawasan perbukitan Dlingo dengan ikon wisata Hutan Pinus Mangunan, serta kawasan tengah sekitaran kota dengan wisata sentra kerajinan gerabah Kasongan.
Sedangkan wilayah Bantul Barat yang meliputi Kapanewon Pajangan, Kapanewon Kasihan, dan Kapanewon Sedayu masih tergolong minim kunjungan wisatawan.
BACA JUGA : Pilihan Wisata Alam Tersembunyi di Karawang 2026 Jadi Destinasi 'Hidden Gem'Terbaik
BACA JUGA : Eksplorasi D'Castello Ciater Mei 2026, Menikmati Keajaiban Kastel Bunga dengan Wahana Imersif
Ketua kelompok pelaku wisata Bantul barat Yani Darojatun, mengatakan sebenarnya banyak destinasi wisata menarik yang dapat dikunjungi dengan sensasi yang berbeda. Menurutnya, kurang optimalnya pengelolaan serta perhatian dari berbagai pihak membuat sejumlah destinasi wisata sejarah dan wisata kerajinan di wilayah tersebut belum berkembang maksimal.
“Bantul Barat punya potensi wisata sejarah yang besar, salah satunya Goa Selarong yang menjadi markas perjuangan Pangeran Diponegoro saat memimpin perang selama lima tahun. Selain itu, potensi wisata kriya, kerajinan batik dan anyaman serat alami, dan kuliner khas Jogja peyek tumpuk, sangat banyak dan layak menjadi tujuan wisata unggulan,” kata Yani.
Para pelaku wisata diajak mengunjungi tujuh titik destinasi di Bantul Barat, di antaranya desa wisata ( Deswita ) produksi peyek tumpuk, sentra produksi kipas bambu, sentra batik tulis, hingga lokasi produksi berbagai produk fesyen berbahan serat alami.
Lebih lanjut Yani Darojatun, berharap kunjungan itu dapat membuka peluang kerja sama dengan biro dan pelaku wisata dari berbagai daerah agar memasukkan wisata Bantul barat dalam daftar kunjungan yang ditawarkan kepada klien. Para pelaku wisata Bantul barat mengemas tawaran untuk para pelaku wisata dari berbagai daerah ini dengan kemasan paket wisata Pangeran Diponegoro. Sebuah paket wisata yang berisi kunjungan ke Goa selarong dan wisata kerajinan serta kuliner di sekitarnya.
“Kami berharap setelah melihat langsung potensi yang ada, para pelaku wisata bisa memasukkan destinasi Bantul barat ke dalam paket perjalanan yang mereka tawarkan kepada para wisatawan,” ujar Yani.
BACA JUGA : Berburu Sushi Viral di Menteng, ini Rekomendasi Tempat Makan Siang Paling Hits dan Autentik
BACA JUGA : Pengedar Narkoba Jaringan Bogor Ditangkap di Bantul, Diduga Racik Tembakau Sintetis untuk Edar
Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi menyambut baik dan mengapresiasi inisiasi dari para pelaku wisata yang membuat terobosan dengan paket wisata Pangeran Diponegoro. Pihak pemerintah akan mensuport melalui media branding yang dimiliki oleh pihak pemerintah.
“ kami menyambut baik dengan terobosan membuat paket wisata Pangeran Diponegoro, yang menyatukan paket kunjungan dalam satu penawaran wisata, kalau dulunya jalan sendiri sendiri maka dengan paket akan lebih mudah. Pemerintahakan mensuport melalui media branding pemerintah,” ujar Saryadi
Empat dari tujuh wisata dalam paket, adalah wisata kerajinan. Dony Permana salah seorang pengrajin serat alami yang juga masuk dalam datar kunjungan yang ditawarkan menyambut baik. Dirinya menjelaskan bahwa wisata kriya di Bantul Barat memiliki potensi ekonomi besar karena melibatkan banyak tenaga kerja lokal. Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian lebih serius agar wisata berbasis kerajinan menjadi prioritas pengembangan pariwisata daerah.
“Indonesia dikenal sebagai negara dengan budaya dan kemampuan kriya yang kuat. Momentum kebangkitan nasional seharusnya juga menjadi semangat untuk membangkitkan kembali kejayaan kriya Indonesia,” ucapnya.
BACA JUGA : Tempat Nongkrong Malam di Solo Paling Hits, Kuliner Legendaris dengan Harga Pelajar
BACA JUGA : Rekonstruksi Ungkap Kekejaman Pelaku Pembunuhan Remaja 16 Tahun di Bantul
Setelah melakukan tur ke lokasi daftar kunjungan yang ditawarkan para pelaku usaha wisata ini kemudian kembali ke lokasi Om thamrin untuk menikmati sajian kuliner khas Bantul berupa sate klathak, yaitu olahan daging kambing dengan menggunakan bumbu garam dan bawang putih.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: