BANTUL, diswayjogja.id - Ancaman gempa megathrust di wilayah Indonesia, khususnya di selatan Jawa, masih menjadi perhatian serius para ahli.
Pakar kebencanaan sekaligus Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa ada sejumlah titik yang seharusnya sudah mengalami gempa besar berdasarkan siklus ratusan tahun, namun hingga kini belum terjadi.
“Para pakar sepakat ada beberapa lokasi yang seharusnya sudah mengalami gempa megathrust dalam periode ulang 200 tahun, tapi belum terjadi,” ujarnya saat ditemui di Kampus Terpadu UMY, Bantul, Rabu (6/5/2026).
Ia menyebutkan, wilayah yang menjadi perhatian antara lain Mentawai, Pulau Siberut, Selat Sunda bagian selatan, hingga wilayah selatan Jawa Tengah termasuk DIY.
BACA JUGA : Gempa M 6,4 Rusak 13 Titik di Bantul, 15 Warga Luka
BACA JUGA : BMKG Catat 21 Gempa Susulan Pacitan, Bukan Aktivitas Sesar Opak
“Periode ulangnya sekitar 200 tahun. Saat ini kita berada di fase akhir siklus tersebut, tapi ini bukan prediksi, melainkan hasil penelitian sebagai dasar mitigasi,” katanya.
Meski demikian, Dwikorita menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat pentingnya kesiapsiagaan.
Ia pun mengapresiasi kesiapan Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghadapi potensi bencana besar tersebut, terutama melalui pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) yang dirancang tahan gempa dan tsunami.
“Bandara itu didesain tahan gempa hingga 8,7 magnitudo. Bahkan sudah memperhitungkan potensi tsunami lebih dari 10 meter,” jelasnya.
BACA JUGA : Gempa M4,5 Guncang Bantul, BMKG Sebut Dipicu Aktivitas Sesar Opak
BACA JUGA : Gempa Pacitan Dini Hari Guncang DIY, Rumah dan Tempat Ibadah di Bantul Rusak
Menurutnya, YIA tidak hanya berfungsi sebagai bandara, tetapi juga sebagai lokasi evakuasi. Area mezzanine dan lantai atas disiapkan untuk menampung hingga 10.000 orang, ditambah fasilitas crisis center yang mampu menampung sekitar 2.000 orang.
“Ini luar biasa, bahkan di ASEAN mungkin baru Yogyakarta yang menyiapkan bandara sekaligus tempat evakuasi seperti ini,” terangnya.
Selain infrastruktur, kesiapsiagaan masyarakat DIY juga dinilai cukup baik. Hal ini terlihat dari rutin dilakukannya simulasi kebencanaan, pemasangan sirine peringatan dini, hingga sistem pengamanan di jalur rawan seperti underpass.