Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menilai pendekatan jemput bola menjadi kunci dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut di masyarakat.,
“Kegiatan ACF ini adalah langkah jemput bola untuk menemukan orang yang sakit TBC. Ini langkah yang strategis dan progresif,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan jajaran tenaga kesehatan agar tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas layanan kesehatan, melainkan aktif turun ke lapangan untuk melakukan deteksi dini.
“Saya berpesan agar tidak hanya menunggu pasien datang berobat, tetapi aktif mencari dan menemukan kasus di masyarakat,” jelasnya.
BACA JUGA : Viral Tiket Pantai Baron Tak Sesuai, Pemkab Gunungkidul Akui Kelalaian Petugas
BACA JUGA : Serat Kekancingan dari Keraton Jogja Diserahkan, Ribuan Tanah Sultan di Gunungkidul Dilegalkan
Lebih lanjut, ia mengapresiasi pelaksanaan ACF yang menargetkan 3.000 warga Gunungkidul.
Ia menilai kegiatan ini didukung teknologi yang mempermudah dan mempercepat proses diagnosis.
“Alat-alatnya sudah canggih. Lima menit, foto paru-paru bisa langsung dibaca. Ini sangat membantu percepatan penanganan,” imbuhnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu mengikuti pemeriksaan TBC yang diselenggarakan secara gratis tersebut.
Direktur Zero TB Yogyakarta, Rina Triasih menyebut penggunaan rontgen dada menjadi kunci untuk mendeteksi kasus TBC, termasuk pada pasien tanpa gejala.
BACA JUGA : Perbukitan Gunungkidul Menarik Liburan Lebaran 2026 di On The Rock Jogja
BACA JUGA : Rumah Hampir Roboh, Warga Rongkop Gunungkidul Akhirnya Dapat Bantuan Pembangunan Rumah
Ia menjelaskan, pendekatan ini memungkinkan tenaga kesehatan menemukan kasus lebih dini dibandingkan metode konvensional yang menunggu keluhan pasien.
“Orang-orang yang bahkan tidak bergejala, nanti bisa ketahuan dari rontgen-nya,” sebutnya.
Menurutnya, hasil rontgen menjadi tahap awal skrining.