YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan keprihatinannya atas gugurnya prajurit TNI asal Kulon Progo, Praka Farizal Rhomadhon, saat menjalankan tugas di Lebanon.
“Saya ikut prihatin. Tapi yang namanya penugasan itu memang dari awal sudah disadari pasti ada korbannya,” ujar Sri Sultan ditemui di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Selasa (31/3/2026).
Menurut Sri Sultan, penugasan di daerah konflik memang memiliki risiko tinggi yang sudah diperhitungkan sejak awal.
“Yang namanya di daerah konflik itu konsekuensinya kemungkinan ada korban jauh lebih besar dibandingkan di tempat yang aman,” katanya.
BACA JUGA : Kisah Praka Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI Asal Kulon Progo Gugur di Lebanon
BACA JUGA : Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Muhammadiyah Serukan Hentikan Eskalasi Konflik
Meski demikian, Sri Sultan berharap insiden serupa tidak kembali terjadi.
“Harapan saya ini yang terakhir, jangan ada korban lagi,” imbuhnya.
Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menegaskan bahwa tugas prajurit TNI di wilayah konflik merupakan bagian dari amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, setiap penugasan telah melalui pertimbangan matang, termasuk potensi risiko yang mungkin terjadi.
“Risiko itu sudah diperhitungkan dari awal,” tandasnya.
BACA JUGA : Muhammadiyah Kecam Serangan ke Iran, Desak PBB Beri Sanksi dan Dorong Dialog Damai Timur Tengah
BACA JUGA : AMPHURI DIY Pastikan Tak Ada Jamaah Umrah Tertahan, Penerbangan Transit Timur Tengah Sudah Normal
Sebelumnya, kabar gugurnya Farizal menyelimuti Dusun Ledok, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo. Prajurit berusia 28 tahun itu dikenal sebagai sosok sederhana dan aktif di lingkungan masyarakat.
Dia dilaporkan gugur akibat serangan di Lebanon saat menjalankan misi perdamaian. Selain Farizal, tiga prajurit TNI lainnya juga mengalami luka-luka.