YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mulai menyoroti faktor krusial di balik keselamatan arus mudik dan balik Lebaran, yakni kondisi kesehatan pengemudi bus.
Di tengah tingginya mobilitas penumpang, Dinkes memastikan seluruh pengemudi dalam kondisi prima. Namun, temuan tekanan darah tinggi pada sejumlah sopir menjadi catatan serius yang tak bisa diabaikan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menyatakan bahwa keselamatan perjalanan sangat bergantung pada kondisi pengemudi, bukan hanya kendaraan.
“Harapannya di saat-saat seperti ini faktor keselamatan dan kenyamanan menjadi yang utama. Kalau pengemudi tidak sehat atau kendaraan tidak dalam kondisi laik, maka segala kemungkinan bisa terjadi di perjalanan,” ungkapnya, Jumat (27/3/2026).
BACA JUGA : Tiket Bus Habis hingga 29 Maret, Arus Balik di Terminal Giwangan Masih Tinggi
BACA JUGA : Arus Mudik di Terminal Jombor Mulai Meningkat, Rute Sumatera Jadi Favorit
Sebagai langkah preventif, Dinkes telah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 50 pengemudi bus, termasuk Trans Jogja, AKDP, dan AKAP. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, serta tes narkoba dan alkohol. Hasilnya, seluruh pengemudi dinyatakan laik mengemudi.
“Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Dinkes DIY, kepolisian, hingga BNN. Pengemudi yang datang langsung diarahkan untuk dicek kesehatannya,” ujarnya.
Meski demikian, Aan mengungkapkan masih ditemukan beberapa pengemudi dengan tekanan darah tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu konsentrasi saat berkendara jarak jauh.
“Kalau memang ada yang kondisinya tidak memungkinkan untuk mengemudi, akan kami rekomendasikan ke pihak terminal dan perusahaan otobus. Namun kemarin alhamdulillah tidak ada yang sampai harus dihentikan,” katanya.
BACA JUGA : Siapkan Jadi Transit Bus Wisata, Pemkot Yogyakarta Rehabilitasi Parkir dan Kios Terminal Giwangan
BACA JUGA : Parkir Bus Dialihkan, Eks Menara Kopi Kotabaru Kembali Hidup Saat Libur Lebaran 2026
Pemeriksaan kesehatan ini rutin dilakukan setiap tahun, khususnya saat momen Lebaran dan libur Natal-Tahun Baru. Dari hasil pemeriksaan, pengemudi dikategorikan dalam tiga status, di antaranya laik mengemudi, laik dengan catatan, dan tidak laik.
Dinkes juga mengingatkan pentingnya kesiapan fisik sopir, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Istirahat cukup dan kehadiran sopir cadangan menjadi kunci utama.
“Keselamatan penumpang itu sangat bergantung pada kondisi pengemudi. Jadi bukan hanya kendaraan yang harus layak, tapi juga pengemudinya harus benar-benar sehat,” jelasnya.