BACA JUGA : Kurasi Destinasi Kuliner Siang Terbaik di Area Bersejarah Semarang
BACA JUGA : Daftar Destinasi Kuliner Lumpia Legendaris Semarang Paling Wajib Dikunjungi
Toko Oen
Berdiri kokoh sejak tahun 1936, Toko Oen bukan sekadar restoran, melainkan sebuah museum hidup. Terletak di Jalan Pemuda yang strategis, restoran ini merupakan salah satu unit usaha kuliner tertua yang masih beroperasi di Indonesia. Begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh pelayan berseragam rapi yang mengingatkan kita pada gaya pelayanan masa lalu. Desain interiornya yang tinggi dengan jendela-jendela besar khas bangunan Belanda menciptakan sirkulasi udara yang sejuk meski tanpa pendingin ruangan yang berlebihan.
Menu yang paling dicari di sini adalah poffertjes, kue cubit khas Belanda dengan tekstur yang sangat lembut dan taburan gula halus. Untuk melengkapi pengalaman bersantap, jangan lewatkan es krim home-made mereka yang memiliki tekstur sedikit kasar namun kaya akan rasa susu, sebuah karakteristik es krim gaya lama yang sulit ditemukan di produk komersial modern. Toko Oen adalah tempat di mana keluarga bisa duduk berjam-jam sambil bercerita tentang masa lalu di bawah lampu gantung antik yang legendaris.
Soto Bangkong
Nama "Bangkong" diambil dari lokasi perempatan tempat kedai ini berdiri, namun sejarahnya bermula jauh lebih awal pada tahun 1950-an sebagai usaha soto pikulan keliling. Soto Bangkong memiliki karakter kuah yang bening, ringan, namun sangat gurih karena kaldu ayam kampung yang pekat. Isiannya cukup sederhana namun memuaskan: suwiran ayam, bihun, tauge, dan taburan bawang goreng yang melimpah.
Bagi banyak warga lokal, sarapan di Soto Bangkong adalah sebuah ritual. Untuk menambah kenikmatan, biasanya tersedia berbagai macam sate-satean seperti sate kerang, sate telur puyuh, hingga sate usus yang dibumbui kecap manis. Meskipun kini sudah memiliki banyak cabang di kota-kota lain, mencicipi langsung di kedai asalnya memberikan sensasi kepuasan tersendiri yang sulit digantikan.
WM Asem-asem Koh Liem
Warung Makan Asem-asem Koh Liem adalah destinasi wajib bagi mereka yang menyukai cita rasa asam-gurih. Menu ikoniknya, asem-asem daging sapi, menyajikan potongan daging yang sangat empuk dalam kuah bening yang segar berkat penggunaan tomat hijau dan belimbing wuluh. Dibuka pertama kali pada tahun 1978, tempat ini hampir selalu penuh saat jam makan siang.
Selain kedai aslinya di Jalan Karang Anyar yang sederhana dan bersahaja, kini tersedia cabang baru di Jalan D.I. Panjaitan dengan fasilitas yang lebih modern dan luas, sangat cocok untuk rombongan keluarga besar. Meski tempatnya diperbarui, Koh Liem tetap mempertahankan resep rahasia yang sama agar pelanggan lama tidak kehilangan rasa yang mereka cintai sejak puluhan tahun silam.
BACA JUGA : Mendekati Puasa, Catat Daftar Rekomendasi Destinasi Kuliner Sahur di Kota Semarang
BACA JUGA : Menelusuri Kehangatan Kuliner di Balik Dinginnya Malam Kota Semarang, Simak Referensi Lengkapnya Berikut Ini
Menelusuri jejak kuliner di Semarang memberikan pemahaman baru bahwa makanan adalah mesin waktu yang paling jujur. Restoran-restoran legendaris ini tidak hanya menjual rasa, tetapi juga menjual memori dan komitmen terhadap tradisi. Keberhasilan mereka bertahan hingga puluhan tahun membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi yang begitu cepat, masih ada ruang yang luas bagi kejujuran rasa dan keramahan pelayanan gaya lama. Mengunjungi tempat-tempat ini adalah cara terbaik untuk menghormati sejarah sekaligus menikmati kelezatan yang sudah teruji oleh waktu.