SLEMAN, diswayjogja.id - Lagu 'Darah Juang' menggema di Tempat Permakaman Umum (TPU) Madurejo, Prambanan, Sleman, Sabtu (28/2/2026).
Namun di tengah suasana duka atas wafatnya pencipta lagu tersebut, sorotan mengarah pada pernyataan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang menilai Indonesia tengah mengalami krisis darah juang.
Jenazah pencipta Darah Juang, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, dimakamkan sekitar pukul 14.00 WIB setelah diberangkatkan dari Rumah Duka Arimatea RS Bethesda Kota Jogja.
Puluhan kerabat dan sahabat mengiringi kepergian sosok yang selama ini dikenal melalui karya-karya bernada perlawanan.
Di pusara, gitar dan violin mengalun pelan mengiringi para pelayat menyanyikan Darah Juang secara kompak.
Isak tangis terdengar ketika peti jenazah diturunkan ke liang lahat.
BACA JUGA : Sidang Disiplin Eks Kapolresta Sleman Tuntas, Ini Sanksi dari Polda DIY
BACA JUGA : John Tobing Dimakamkan di Prambanan, Pencipta Lagu Darah Juang yang Kobarkan Semangat Reformasi
Beberapa puisi bertema perjuangan turut dibacakan, mempertegas bahwa warisan gagasan John tak berhenti pada musik. Namun bagi Tiyo, momen itu bukan sekadar penghormatan emosional.
Ia menyebut hari pemakaman sebagai pengingat keras bagi generasi hari ini.
“Hari ini adalah hari yang membuat kita kembali mengingat perjuangan Bang John Tobing. Perjuangan yang seharusnya kita kenang bukan sekadar sebagai memori, melainkan sebagai energi bagi Indonesia masa depan,” katanya kepada wartawan.
Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam hal konsistensi dan keberanian moral.
Ia bahkan meminjam judul lagu ciptaan John untuk menggambarkan situasi tersebut.
“Karena hari ini kita sedang mengalami krisis perjuangan. Kita mengalami krisis, meminjam judul lagu Bang John Tobing, krisis darah juang,” ucapnya.
BACA JUGA : Kisah Solidaritas dan Keberanian di Balik Kepergian John Tobing