Tim merekomendasikan agar lubang segera ditutup menggunakan material kedap air untuk mencegah air masuk yang berpotensi mempercepat proses pelapukan di bawah permukaan.
Sementara itu, analisis geofisika menggunakan metode mikrotremor oleh tim dari Universitas Diponegoro mengindikasikan kedalaman lubang lebih dari 50 meter. Model fenomena menunjukkan adanya deformasi lapisan batuan di sekitar bidang diskontinu, serta indikasi crack dan settlement dengan sifat dinamis elasto-plastisitas di area sekitar lubang.
Warga berharap ada langkah mitigasi permanen agar kejadian serupa tidak kembali mengancam keselamatan dan permukiman di Dusun Popohan.
BACA JUGA : Hujan Deras Picu Longsor, Warga Nanggulan Kulon Progo Selamatkan Diri Saat Rumah Ambruk
BACA JUGA : Kerangka Manusia Ditemukan di Gunung Tugel Kulon Progo, Diduga Warga yang Hilang Sejak Desember
Diberitakan sebelumnya, Guru Besar Teknik Geologi UGM, Wahyu Wilopo, menjelaskan sinkhole merupakan fenomena runtuhan vertikal permukaan tanah yang membentuk lubang dengan kedalaman bervariasi.
“Sinkhole merupakan proses alami yang dapat dipercepat oleh aktivitas manusia dan faktor alam. Hampir semua fenomena sinkhole yang muncul dipicu oleh curah hujan yang tinggi,” ujar Wahyu dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, runtuhan terjadi akibat adanya rongga bawah permukaan yang terbentuk karena proses pelarutan batuan, terutama di kawasan karst. Proses ini semakin intensif saat curah hujan tinggi sehingga air mempercepat pelapukan dan pembentukan rongga.
Dia menambahkan, sekitar 8 persen daratan Indonesia terdiri dari kawasan karst, sehingga potensi sinkhole cukup tinggi, baik akibat faktor alam maupun aktivitas manusia.
BACA JUGA : BBWSSO Siapkan Penanganan Darurat Talud Ambrol di Tegalrejo, Alat Berat Diturunkan Bertahap
BACA JUGA : Talud Sungai Buntung Ambrol, Wali Kota Hasto Pastikan Perbaikan Dianggarkan Tahun Ini
Wahyu memaparkan sejumlah tanda awal yang perlu diwaspadai masyarakat. Pertama, muncul retakan di permukaan tanah atau batuan dengan pola membulat, setengah lingkaran, atau seperempat lingkaran.
Kedua, permukaan tanah terlihat turun dibandingkan area sekitarnya, terutama saat hujan karena air akan terkumpul di satu titik. Ketiga, muncul lubang-lubang kecil yang berpotensi membesar.
“Apabila teridentifikasi tanda-tanda tersebut sebaiknya masyarakat segera melapor pada pihak berwajib dan tidak mendekatinya,” tandasnya.