SLEMAN, diswayjogja.id - Di teras sebuah rumah sakit, seorang gadis duduk memeluk lututnya. Matanya sembab.
Di ruang operasi, sang ayah baru saja menjalani tindakan akibat penyakit ginjal yang mengharuskannya bolak-balik ke meja bedah.
Di hari yang sama, kabar pahit datang, ia gagal menjadi awardee Bidikmisi.
“Jadi, aku memiliki mimpi seperti anak-anak pada umumnya, memiliki jenjang karier yang bagus. Aku ingin menjadi mahasiswa. Namun takdir berkata lain, aku tidak dinyatakan sebagai awardee saat mendaftar Bidikmisi,” kenang Rosnia Rahman, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2024 ini.
Hari itu, rasa kecewa bercampur cemas. Biaya kuliah, uang kos, dan pengobatan ayahnya seperti menumpuk di kepala. Ia mengaku sempat mempertanyakan hidup.
“Aku masih ingat betul, aku duduk di teras rumah sakit sambil menangis dan berkata, ‘Tuhan, kenapa jahat sekali? Aku punya mimpi, tapi selalu dihentikan di tengah jalan," ucapnya.
BACA JUGA : BTN Siap Dukung Program KSP, Masyarakat Dimudahkan Nikmati Manfaat Program Pemerintah
Namun, ia tidak berhenti di air mata. Ia bangkit, kembali ke kamar doa, dan berdoa sungguh-sungguh.
Tak lama setelah itu, telepon dari sosok yang hingga kini ia sebut 'misterius' mengubah arah hidupnya. Bantuan datang. Ia pun bisa memulai kuliah.
Perjalanan belum selesai. Setelah satu semester, Ros menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan.
Namanya kembali diusulkan sebagai penerima Bidikmisi yang kini disebut KIP Kuliah. Kali ini, ia lolos.
Di balik status awardee itu, ada satu hal yang menurutnya tak kalah penting, kepastian pencairan dana beasiswa melalui Bank Tabungan Negara atau BTN.
“Saat itu, proses pencairannya melalui BTN. Menurutku, BTN sangat membantu karena pencairan dananya tidak pernah terlambat,” ujarnya.
BACA JUGA : Mahasiswa FIKK UNY Raih Beasiswa Djarum Lewat Prestasi Debat