YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI tahun 2026 kembali digelar selama tujuh hari pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026 di Kampung Ketandan, Kota Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan budaya lintas komunitas ini dipadukan dengan konsep ngabuburit Ramadan serta berbagai pertunjukan seni dan kuliner.
Ketua PBTY XXI, Jimmy Sutanto, mengatakan PBTY berawal dari gagasan pembuatan buku resep makanan Tionghoa pada 2005 yang kemudian berkembang menjadi festival budaya sejak 2006, bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek.
Sejak awal, kegiatan ini bertujuan memperkuat Yogyakarta sebagai “City of Tolerance” melalui kolaborasi lintas budaya.
BACA JUGA : Jejak Akulturasi Tionghoa di Yogyakarta Jadi Rekomendasi Destinasi Wisata Imlek 2026
BACA JUGA : Tak Disangka! Bocah Keturunan Tionghoa Jadi Bintang Tari Jawa, Gerakannya Sekelas Maestro
“Seiring waktu, Pekan Budaya Tionghoa bukan hanya milik komunitas Tionghoa, tetapi menjadi milik seluruh warga Nusantara,” ujarnya dalam konferensi pers di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Rabu (11/2/2026).
Wakil Ketua Pelaksana PBTY XXI, Subekti Saputro Wijaya, menjelaskan kegiatan tahun ini berlangsung di seluruh kawasan Ketandan dengan sejumlah agenda utama. Di antaranya Malioboro Imlek Carnival pada Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 20.00–22.30 WIB dengan rute dari Gedung DPRD Kota Yogyakarta menuju Titik Nol Kilometer.
“Panggung utama tahun ini juga berbeda karena ditempatkan di Jalan Suryatmajan dengan konsep panggung naik-turun agar tidak mengganggu arus lalu lintas pada siang hari. Selain panggung utama, tersedia panggung hiburan kecil yang menampilkan street magician, Chinese cosplay, hingga dangdut Mandarin,” jelasnya.
Di Rumah Budaya Ketandan, panitia menghadirkan pameran artefak pandu Tionghoa sebagai cikal bakal pramuka, serta pertunjukan wayang potehi setiap hari. Berbagai lomba anak seperti Chinese Costume Competition, lomba menyanyi lagu Mandarin, hingga tari modern turut meramaikan acara.
BACA JUGA : Begini Cara Orang Tionghoa Memaksimalkan Penampilannya dengan Nail Art
BACA JUGA : Ratusan Warga dan Pelaku Usaha Bersihkan Malioboro Demi Kenyamanan Wisatawan
“Karena bertepatan dengan Ramadan, kegiatan dimulai sejak sore hari sebagai sarana ngabuburit, seperti taiji bersama, zumba, lari santai, hingga dongeng anak,” tuturnya.
Panitia juga menyediakan bazar kuliner dengan total 172 stan yang dipisah antara zona halal dan non-halal untuk menjaga kenyamanan pengunjung.
Selain itu, pembagian takjil akan dilakukan di sejumlah titik, termasuk Gapura Ketandan dan Jalan Suryatmajan. Panitia berharap PBTY XXI mampu meningkatkan transaksi pelaku usaha sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota toleransi yang inklusif dan ramah budaya.