SLEMAN, diswayjogja.id - Di antara ribuan toga yang terangkat di Gedung Olahraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu (11/2/2026), terselip satu kisah tentang keberanian mengambil jeda.
Bukan karena ragu, melainkan karena ingin memastikan langkah yang lebih pasti.
Amalia Nabilah Aldhamai, wisudawan Program Studi Terapan Linguistik (S2), Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY, menuntaskan studinya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95.
Capaian hampir sempurna itu lahir dari keputusan yang tidak mudah: menunda satu semester demi menunggu kepastian beasiswa.
Perempuan asal Semarang tersebut sejatinya telah lama menyimpan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo itu mengaku hasrat studi lanjut sudah muncul sejak ia merampungkan pendidikan sarjana.
BACA JUGA : Polda DIY Hormati Vonis Kasus Penganiayaan Anak di Sleman, Ingatkan Warga Tidak Main Hakim Sendiri
BACA JUGA : Ratusan Wisudawan UNY Raih Cumlaude, 29 Lulusan Sabet Summa Cumlaude
“Sebenarnya keinginan lanjut S2 sudah ada sejak lulus S1. Tapi sempat jeda beberapa tahun sambil mencari peluang beasiswa,” katanya saat ditemui di sela prosesi wisuda.
Kesempatan itu datang melalui Beasiswa Unggulan (BU) kategori umum. Namun, jalan menuju ruang kuliah magister tidak serta-merta mulus.
Ia sempat diterima pada intake sebelumnya, tetapi memilih tidak langsung mengambil kesempatan tersebut.
“Sebenarnya keterima di intake sebelumnya, semester sebelumnya. Tapi karena saya menunggu beasiswa, akhirnya ikut semester berikutnya. Jadi kuliahnya mulai awal Februari 2024,” tuturnya.
Secara administratif, ia tercatat sebagai angkatan 2023. Namun, ia baru aktif berkuliah pada semester berikutnya.
Keputusan menunda bukan perkara ringan. Ia harus menimbang kesiapan finansial sekaligus mental untuk menghadapi dinamika studi magister.
BACA JUGA : Menjelajahi Kelezatan Tersembunyi Wisata Kuliner Malam di Kota Malang