Menu utama yang menjadi primadona di sini adalah nasi putih yang disajikan dengan ceker ayam yang dimasak hingga sangat empuk. Ceker tersebut direndam dalam kuah merah kental yang terbuat dari campuran cabai pilihan, memberikan rasa pedas yang meresap hingga ke tulang. Selain ceker, biasanya tersedia juga pelengkap lain seperti sayap ayam atau kepala ayam bagi mereka yang ingin variasi tekstur. Rasanya yang gurih berpadu dengan level kepedasan yang tinggi seringkali membuat pengunjung berkeringat meski cuaca sedang dingin.
Ikon Kuliner Malam Dini Hari:
Warung ini baru mulai berdenyut pada sore hari sekitar pukul 17.00 dan terus melayani pelanggan hingga pukul 03.00 dini hari. Lokasinya yang berada di kawasan strategis Jalan Letjen S. Parman, Blimbing, membuatnya sangat mudah ditemukan. Dengan kisaran harga antara Rp 10.000 hingga Rp 20.000 saja, tempat ini menawarkan solusi makan malam yang murah meriah namun memberikan kesan yang mendalam. Sego Ceker Glintung kini telah menjadi ikon street food malam yang tak terpisahkan dari identitas kuliner Malang.
BACA JUGA : Menjelajahi Cita Rasa Andalan Destinasi Kuliner Favorit di Malang 2026
BACA JUGA : Deretan Destinasi Kuliner Legendaris Malang yang Tak Lekang Oleh Waktu, Cek Info Lengkapnya Berikut Ini
Sego Goreng Resek
Kata "resek" dalam bahasa Jawa berarti sampah, namun jangan salah sangka, nama ini justru menjadi daya tarik unik bagi warung nasi goreng legendaris di kawasan Klojen. Sego Goreng Resek adalah contoh nyata bagaimana kesederhanaan rasa bisa mengalahkan kemewahan restoran berbintang.
Rahasia Masakan Tradisional:
Apa yang membedakan Sego Goreng Resek dengan nasi goreng lainnya? Jawabannya ada pada metode memasaknya. Sang koki masih setia menggunakan anglo atau tungku berbahan bakar arang kayu. Penggunaan arang ini menghasilkan aroma smoky (asap) yang sangat khas dan menyerap ke dalam setiap butir nasi. Campuran bahannya pun sederhana namun melimpah, terdiri dari suwiran ayam, potongan jeroan, tauge, dan kubis, menciptakan tekstur yang kaya dalam setiap suapan.
Sensasi Berburu di Gang Kecil:
Lokasi warung ini tersembunyi di Jalan Brigjen Katamso, sebuah kawasan yang mungkin tidak terlalu mencolok bagi orang awam. Namun, justru sensasi mencari dan mengantre di tempat sederhana ini yang membuat pengalaman kuliner Anda terasa lebih autentik. Buka dari pukul 17.00 hingga 21.00, tempat ini hampir selalu habis sebelum waktunya karena tingginya minat pelanggan. Dengan harga Rp 12.000 hingga Rp 25.000, Anda bisa merasakan nasi goreng khas Jawa yang rasanya menyerupai masakan rumah yang penuh memori.
Ronde Titoni
Setelah puas menyantap makanan berat, lidah Anda mungkin membutuhkan sesuatu yang manis dan hangat sebagai penutup. Ronde Titoni hadir sebagai penjaga tradisi minuman hangat di Malang sejak tahun 1948. Tempat ini adalah saksi bisu perkembangan kota Malang dari masa ke masa.
Pilihan Menu Tradisional:
Menu andalan yang paling banyak dicari tentu saja Wedang Ronde. Terdiri dari bola-bola ketan berisi kacang yang kenyal, disajikan dalam kuah jahe panas yang manis dan sedikit pedas. Aroma jahenya sangat kuat, mampu seketika menghangatkan tubuh yang kedinginan. Selain ronde, Anda juga bisa memesan Angsle, minuman berbahan dasar santan dengan isian roti tawar, kacang hijau, ketan putih, dan petulo (mie beras). Perpaduan rasa manis dan gurih dari santan membuat Angsle menjadi favorit bagi mereka yang menyukai tekstur yang lebih lembut.
Atmosfer Klasik di Pusat Kota: