BACA JUGA : Program Gizi dan TB Jadi Fokus Kesehatan Santri
Ia menilai, perjalanan panjang sejak kejadian itu telah menguras tenaga dan emosi seluruh keluarga.
“Pokoknya menurut kami, Alhamdulillah, ini sudah selesai sampai di sini. Kami menganggap ini sudah benar-benar selesai,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa yang terpenting bagi keluarganya saat ini adalah kembali menjalani rutinitas sederhana tanpa tekanan dan sorotan publik.
Baginya, kehidupan normal menjadi bentuk kebahagiaan tersendiri setelah melewati masa sulit.
“Saya dan Hogi ingin kembali hidup seperti kemarin, hidup normal, tidak ada apa-apa. Itu sudah membuat kami senang,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa fokus keluarganya kini hanya satu, yakni kembali hidup normal dan melanjutkan aktivitas sehari-hari.
BACA JUGA : Kejari Sleman Tempuh Jalur Damai Kasus Hogi Minaya, GPS Pengawasan Akan Dilepas
BACA JUGA : Polisi Pasang GPS di Kaki Hogi Minaya, Kasus Laka Sleman Masuk Kejaksaan
“Harapan kami cuma satu, ingin hidup normal seperti dulu, tanpa masalah, seperti kemarin-kemarin saja," sebutnya.
Di tengah perhatian publik yang luas, ia menekankan bahwa dirinya dan keluarga menghormati seluruh proses hukum yang telah berjalan.
Ia juga menyampaikan pandangannya tentang makna keadilan yang diharapkan dapat dirasakan oleh semua pihak.
“Harapannya semoga semuanya mendapatkan keadilan sesuai sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” harapnya.
Terkait pertanyaan mengenai penghentian Kapolresta Sleman akibat kasus ini, ia memilih tidak memberikan komentar lebih jauh.
Ia menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum untuk menjelaskan aspek teknis dan yuridis yang menyertainya.
BACA JUGA : Kasus Laka Jambret Sleman Menggantung, Tahap Kedua Restorative Justice Belum Dijadwalkan