BACA JUGA : Kampung Nelayan Bantul Jadi Model Ekonomi Pesisir Berbasis Koperasi
Selama bertahun-tahun, kebutuhan hariannya ditanggung oleh majikannya, sehingga gajinya ditabung seluruhnya.
“Saya kerja, kalau makan dan kebutuhan lain sudah dicukupi ibu, jadi gaji saya ditransfer ke tabungan. Sekarang uangnya ke mana saya tidak tahu,” ujarnya.
Ia menuturkan, total dana yang disetorkan ke KSP Mekarsari melalui seorang tenaga pemasaran berinisial “S” mencapai Rp 80 juta.
Dana itu, menurutnya, merupakan hasil jerih payah selama puluhan tahun bekerja.
“Uang tabungan saya itu hasil kerja sama ibu selama bertahun-tahun. Saya simpan untuk hari tua, tapi sekarang tidak jelas nasibnya,” jelasnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Mbok Ginem hanya bisa berharap uangnya kembali.
BACA JUGA : Poncosari Kuatkan Koperasi Nelayan, Armada Baru Targetkan Kenaikan Produksi 25 Persen
BACA JUGA : Koperasi Desa Merah Putih di Bantul Mulai Berjalan, ASN Jadi Motor Penggerak Awal
Ia mengaku kebingungan menghadapi situasi yang terjadi.
“Saya cuma ingin uang saya bisa kembali. Itu satu-satunya pegangan saya untuk hidup ke depan,” imbuhnya.
Korban lain, Euis, warga Godean, Sleman, mengaku turut menyetor dana ratusan juta rupiah yang hingga kini belum bisa ditarik kembali.
Ia mengatakan, total uang yang ia setorkan mencapai Rp 285 juta.
Dana itu ia simpan sebagai bentuk investasi dan tabungan jangka panjang, namun kini nasibnya tak jelas.
“Saya menyetor Rp 285 juta. Sekarang saya hanya ingin uang kami kembali,” sebutnya.
BACA JUGA : Menjelang Libur Akhir Tahun, Koperasi Andong Wisata Siapkan Kuda Sehat dan Penyesuaian Tarif