“RAT bukan soal dapat SHU berapa atau dapat doorprize apa, tapi membicarakan usaha apa yang bisa dikembangkan koperasi ke depan,” tegas Setyo.
BACA JUGA : 75 Koperasi di Bantul Terancam Dibubarkan, DKUKMPP Pastikan Penataan dan Kepastian Hukum
Namun demikian, Setyo menilai masih banyak koperasi karyawan yang sulit berkembang karena rendahnya rasa kepemilikan anggota. Salah satu indikatornya adalah anggota yang enggan berbelanja di koperasi sendiri karena dianggap mahal.
“Ini ironi. Toko milik sendiri, tapi pemiliknya tidak mau belanja di situ. Padahal kalau semua anggota belanja di koperasi, keuntungannya akan kembali ke anggota juga,” imbuhnya.
Dia menyebut praktik pemotongan belanja wajib melalui voucher di sejumlah koperasi karyawan sebagai bentuk upaya menumbuhkan kesadaran anggota agar bertransaksi di koperasi sendiri.
Ke depan, Setyo optimistis koperasi karyawan dapat menjadi pilar kesejahteraan pekerja jika dijalankan dengan prinsip kekeluargaan, gotong royong, dan profesionalisme.
“Jangan melihat koperasi hanya sebagai lembaga kecil yang pinjamannya ratusan juta. Dengan modal anggota yang besar dan komitmen bersama, koperasi karyawan bisa tumbuh dan menyejahterakan anggotanya,” pungkasnya.