Eksplorasi Kuliner Nusantara dalam Balutan Modernitas di Paris Baguette

Minggu 04-01-2026,05:16 WIB
Reporter : Tri Diah Aprilia
Editor : Syamsul Falaq

diswayjogja.id – Dinamika kehidupan modern di kota-kota besar sering kali membuat kita terjebak dalam rutinitas yang serba cepat dan instan. Di tengah kepungan gedung pencakar langit dan kemacetan yang melelahkan, ada satu hal yang kerap kali menjadi pelarian batin bagi banyak orang, yakni kenangan akan rumah. Rumah bukan sekadar koordinat tempat tinggal, melainkan sebuah ruang emosional di mana kasih sayang dan kehangatan sering kali bermanifestasi melalui hidangan yang tersaji di meja makan. Aroma tumisan bumbu dari dapur ibu atau kepulan asap dari bakaran iga di halaman belakang adalah fragmen memori yang sulit dihapus oleh waktu.

Makanan memiliki kekuatan magis sebagai mesin waktu yang mampu membawa kita kembali ke masa kecil hanya dalam satu suapan. Bagi masyarakat urban yang merantau atau mereka yang terlalu sibuk untuk memasak sendiri, mencari rasa yang autentik dan akrab di lidah menjadi sebuah perjalanan spiritual tersendiri. Fenomena ini menciptakan kerinduan kolektif terhadap masakan-masakan rumahan yang kaya akan rempah, sebuah profil rasa yang membentuk identitas kita sebagai bangsa yang mencintai keanekaragaman kuliner. Rasa pedas yang menyengat, gurihnya santan, hingga manisnya bumbu bacem adalah bahasa universal yang menyatukan berbagai latar belakang.

Industri kuliner pun menyadari bahwa kecanggihan teknik memasak ala Barat atau estetika minimalis kafe modern tidak akan lengkap jika tidak menyentuh sisi emosional pelanggan. Saat ini, muncul tren di mana kafe-kafe bertaraf internasional mulai berani mengadopsi resep-resep tradisional Indonesia ke dalam buku menu mereka. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan keaslian rasa tersebut namun tetap menyajikannya dalam standar pelayanan dan estetika yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat masa kini. Menghubungkan antara kemewahan dunia luar dengan kenyamanan masakan dalam rumah adalah seni yang membutuhkan kepekaan tinggi.

Salah satu pemain besar di dunia toko roti dan kafe, Paris Baguette, kini mencoba menjawab tantangan tersebut melalui sebuah inovasi yang berani. Dengan tetap menjaga akarnya yang kental dengan nuansa Prancis, mereka kini membuka pintu bagi cita rasa lokal untuk bersanding di etalase mereka. Langkah ini merupakan sebuah apresiasi terhadap kekayaan kuliner Indonesia, sekaligus cara untuk memberikan pengalaman baru bagi para pelanggan setia mereka yang ingin merasakan sensasi "pulang ke rumah" di tengah suasana kafe yang elegan dan kontemporer.

BACA JUGA : Samsung Buat Liburan Akhir Tahun, Rekomendasi Hiburan di Rumah Dengan Audio Visual Menakjubkan

BACA JUGA : Menjelajahi Sensasi Kuliner Bandung yang Tak Pernah Padam di Tahun 2025, Simak Informasi Selengkapnya Disini

Sebuah Jembatan Kerinduan Bertajuk "Rindu Rumah"

Restoran dan kafe Paris Baguette secara resmi meluncurkan sebuah program menu tematik yang diberi nama "Rindu Rumah". Program ini lahir dari sebuah pemikiran sederhana namun mendalam: bahwa secanggih apa pun lidah seseorang mengeksplorasi rasa dunia, ia akan selalu merindukan masakan rumah. Melalui kampanye ini, Paris Baguette berusaha menghadirkan kembali menu-menu yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia, namun dengan standar presentasi yang lebih halus dan suasana tempat yang mendukung relaksasi.

Begitu pengunjung memasuki area kafe, mereka akan segera merasakan perbedaan atmosfer yang coba dibangun. Desain interior yang didominasi oleh elemen kayu berwarna terang menciptakan kesan luas namun tetap hangat. Pencahayaan yang dirancang lembut memberikan efek menenangkan, sangat cocok untuk melepas penat setelah beraktivitas. Salah satu elemen dekorasi yang paling menarik adalah perpaduan antara siluet wayang kulit yang tradisional dengan garis-garis cakrawala kota modern pada dindingnya. Visual ini seolah-olah bercerita tentang bagaimana tradisi tetap bisa bertahan dan bersinar di tengah kemajuan zaman yang pesat.

Dari Pastry Prancis ke Meja Makan Nusantara

Di antara gemerlap dunia pastry ala Prancis yang menjadi ciri khas Paris Baguette, terselip deretan hidangan berat yang sangat lokal. Kehadiran menu-menu ini memberikan warna baru yang kontras namun harmonis di dalam kafe.

Menu utama yang menjadi primadona dalam seri ini adalah Iga Sapi Sambal Mercon. Sajian ini datang dengan komposisi yang sangat lengkap dan menggugah selera. Di atas piring, tersedia nasi putih hangat yang ditaburi bawang goreng renyah, potongan iga bakar dengan warna gelap mengkilap akibat karamelisasi bumbu, serta acar sayur yang memberikan warna cerah. Tak lupa, sambal merah yang tampak menantang, irisan jeruk nipis untuk kesegaran, serta semangkuk kaldu sapi yang gurih disajikan secara terpisah untuk melengkapi hidangan.

Iga sapi yang disajikan memiliki tekstur yang sangat mengesankan; dagingnya sangat empuk sehingga mudah lepas dari tulang hanya dengan sedikit tekanan. Bumbu bakarannya meresap hingga ke bagian terdalam, memberikan perpaduan rasa manis dan gurih yang dominan namun tetap memiliki sentuhan aroma asap yang elegan. Ketika dipadukan dengan sambal mercon, ledakan rasa pedas yang tajam langsung terasa di lidah, memberikan sensasi yang sangat intens sesuai dengan namanya. Kehadiran acar dan perasan jeruk nipis di sini bukan sekadar pelengkap, melainkan penyeimbang yang krusial untuk menetralkan rasa pekat dari bumbu iga dan rasa pedas dari sambal.

BACA JUGA : Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Semarang yang Tak Boleh Terlewatkan, Simak Informasi Selengkapnya Disini

BACA JUGA : Daftar Rekomendasi Sarapan Legendaris dan Kekinian di Kawasan Pasar Cihapit, Simak Referensi Lengkapnya

Kategori :