SLEMAN, diswayjogja.id - Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, menyebutkan soal pendidikan dan perdamaian di negara-negara ASEAN, dalam kegiatan UGM Annual Lecture, di Balai Senat UGM, Kamis (31/7/2025).
Presiden Ramos Horta memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa UGM dengan tema Pemberdayaan Masyarakat: Pendidikan, Kewirausahaan Sosial dan Perdamaian.
Ramos Horta menyebutkan pihaknya berbagi sejumlah refleksi tentang “Kepemimpinan Inspiratif untuk Perubahan Sosial,” di mana kepemimpinan inspiratif sejati merupakan membangkitkan potensi dalam diri orang lain, menggerakkan individu dan komunitas menuju visi bersama akan masa depan yang lebih adil, inklusif, berkelanjutan, dan damai.
"Kepemimpinan seperti ini menuntut, pertama-tama, empati—kemampuan untuk mendengar dan merasakan perjuangan serta harapan mereka yang ingin kita layani, terutama yang paling rentan, termarjinalkan, dan terpinggirkan. Kedua, diperlukan ketekunan dan ketahanan," ujarnya.
BACA JUGA : Tim Arekeolog UGM Serahkan 15 Artefak Hasil Eksvakasi ke Masyarakat Labuan Bajo
BACA JUGA : Berikan Kuliah Umum di Global Summer Week UGM, Anies Baswedan Sebut Narrative Leadership
Dalam semangat ini, kata Ramos Horta, pengalaman Timor Leste saat bersiap menjadi anggota penuh ASEAN pada Oktober 2025, menawarkan perspektif yang unik dan berharga.
Di Timor-Leste, Ramos Horta percaya bahwa perubahan sosial muncul ketika komunitas lokal dan institusi akademik bekerja sama, berdialog, dan menciptakan solusi bersama.
"Oleh karena itu, kami mengusulkan agar ASEAN mengakui dan memperkuat model kepemimpinan yang berakar pada tradisi lokal, sistem pengetahuan adat, dan praktik rekonsiliasi komunitas," katanya.
Menurutnya, bentuk dialog antargenerasi tradisional lainnya harus diakui sebagai alat efektif untuk mediasi, transformasi, dan perdamaian sosial dalam konteks yang beragam.
BACA JUGA : Usung Penanganan Kanker secara Integratif, FK-KMK UGM Gelar Summer Course 2025
BACA JUGA : Jika Aceh Miliki Dokumen Asli, Pakar Geodesi UGM Sebut Perebutan 4 Pulau Bisa Diselesaikan
"Menurut pengalaman saya, inisiatif perubahan sosial yang paling efektif bertumpu pada tiga pilar yang saling berkaitan pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian," jelasnya.
Ramos Horta menuturkan pendidikan bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tapi tentang membebaskan pikiran dan kesadaran. Di Timor-Leste, setelah bertahun-tahun konflik, sekolah hancur dan ribuan anak kehilangan hak atas pendidikan.
Dia memahami bahwa untuk membangun kembali negara, pihaknya harus membangun kembali pendidikan. Timor Leste melaksanakan program makan di sekolah untuk mencegah kelaparan, malnutrisi, dan stunting, serta memastikan anak-anak bisa tetap berada di dalam kelas.