Keluh Kesah Pedagang Jajanan Keliling, Dua Kali Hantaman Bagi Usahanya

Keluh Kesah Pedagang Jajanan Keliling, Dua Kali Hantaman Bagi Usahanya

Pedagang jajanan keliling merasakan dampak berkurangnya pembeli sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Penurunan omzet disebut terjadi bersamaan dengan kenaikan sejumlah harga bahan baku yang membuat pelaku usaha mikro semakin tertekan.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Pedagang jajanan keliling merasakan dampak berkurangnya pembeli sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Penurunan omzet disebut terjadi bersamaan dengan kenaikan sejumlah harga bahan baku yang membuat pelaku usaha mikro semakin tertekan.

Salah satunya dirasakan Nurcholis, pedagang bakso tusuk kuah yang sehari-hari berjualan secara keliling, termasuk di kawasan Kaliurang. Menurutnya, sebelum program MBG berjalan, penjualan masih relatif baik dan harga bahan baku cenderung stabil. Dirinya merasakan hantaman dua kali.

“Kalau sebelum ada MBG lumayan. Biasanya saya berjualan di Kaliurang, dengan MBG harga kulakan bahan jadi naik semua, sedangkan wilayah jualan kita juga semakin sedikit. Hantaman kiri kanan” ujar Nurcholis, Rabu (9/9/2026).

Ia mengatakan, persoalan yang dihadapi pedagang kecil bukan hanya berkurangnya pembeli, tetapi juga meningkatnya biaya produksi. Sejumlah bahan yang digunakan untuk membuat bakso, mulai dari daging, tepung hingga jasa penggilingan dan perlengkapan kemasan, menurutnya mengalami kenaikan.

BACA JUGA:Emak-emak Tabuh Panci Jalan dari Tugu ke UGM, Desak Evaluasi MBG dan Soroti Bencana

BACA JUGA:Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi di Turi, 19 Siswa SMK dan 2 Siswa Sempat Alami Gejala

“Kalau ada MBG, rata-rata bahan semua naik, mulai dari daging, tepung, penggilingan, sampai plastik. Jadi naik semua,” katanya.

Di sisi lain, keberadaan MBG juga membuat penjualan jajanan di sekitar sekolah mengalami penurunan. Anak-anak yang sebelumnya menjadi salah satu pasar utama pedagang jajanan kini lebih banyak mendapatkan makanan dari program tersebut.

Nurcholis memperkirakan penjualannya mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Jika sebelumnya omzet kotor dalam sehari bisa mencapai sekitar Rp200 ribu, kini pendapatannya terkadang hanya berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu.

“Penjualan berkurang drastis, sekitar 50 persen lebih bahkan mungkin 70 persen. Kalau biasanya dapat kotor sekitar Rp200 ribu, sekarang kadang hanya Rp50 ribu, kadang Rp60 ribu,” ungkapnya.

BACA JUGA:Puluhan Siswa dan Guru Diduga Keracunan Menu MBG di Sleman, JCW Desak Program Dihentikan Sementara

BACA JUGA:Usai Ribuan Kasus Keracunan MBG, Staf Presiden Datang Langsung ke Dapur SPPG Yogyakarta

Kondisi tersebut semakin terasa selama Juli hingga Agustus 2026. Nurcholis menyebut penurunan penjualan berlangsung cukup drastis, terutama karena berkurangnya konsumen dari kalangan pelajar.

“Selama Juli dan Agustus ini penjualan merosot drastis, apalagi setelah ada MBG,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait