Game Vulgar Bisa Picu Overthinking Anak, Psikolog DIY Sarankan Deteksi Dini Lewat Tes Mental

Game Vulgar Bisa Picu Overthinking Anak, Psikolog DIY Sarankan Deteksi Dini Lewat Tes Mental

Psikolog DIY mengingatkan game dan video vulgar dapat memengaruhi kesehatan mental anak hingga memicu overthinking. Deteksi dini melalui tes psikologi dan pendampingan orang tua dinilai penting.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id - Paparan game dan video dengan konten vulgar dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental anak, terutama generasi Alfa yang tumbuh akrab dengan teknologi digital. Jika tidak disertai pengawasan orang tua, kebiasaan tersebut berisiko memicu kecanduan hingga overthinking.

Psikolog Dr. Berliana Henu Cahyani, menyebutkan generasi Alfa memiliki karakteristik yang sangat dekat dengan dunia digital sehingga eksplorasi terhadap berbagai jenis konten berlangsung lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

“Video-video game itu juga bisa berpengaruh ke mental anak. Apalagi ini anak-anak yang dites itu generasi Alfa, generasi yang melek teknologi,” ujarnya dalam kegiatan Tes IQ, Minat Bakat, dan Seminar Parenting di Sekolah Teladan Yogyakarta di Sleman, Minggu (6/9/2026).

Berliana menjelaskan, paparan game yang tidak terkontrol dapat memengaruhi fungsi kognitif anak. Dorongan untuk terus mengeksplorasi konten digital berpotensi membawa anak mengakses tontonan yang belum sesuai usianya.

BACA JUGA : Profesor UGM Ramai-Ramai Melukis di RSA, Seni Disebut Bisa Tingkatkan Imunitas dan Kesehatan Mental

BACA JUGA : Sleman Bentuk Sistem Kesehatan Mental Remaja Terpadu, Ada Psikolog di Puskesmas hingga Posbindu Atlet

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kecanduan apabila berlangsung tanpa pengawasan yang memadai.

“Ketika eksplorasinya berlebihan tanpa adanya atau kurang pengawasan, nanti bisa berdampak pula rentan terjadinya overthinking,” katanya.

Karena itu, ia menilai deteksi dini melalui pemeriksaan psikologis menjadi salah satu langkah preventif agar orang tua mengetahui kondisi mental sekaligus potensi anak.

“Tes ini untuk membentengi sebagai upaya preventif bahwa ada potensi dan untuk mengetahui juga bagaimana kesehatan mentalnya,” jelas Berliana.

BACA JUGA : Kemkomdigi: Pembatasan Game Online Masih Dikaji, Konten Kekerasan Masuk Kategori Negatif

BACA JUGA : Game Interaktif Kata Kita UGM Jadi Solusi Digital untuk Anak Speech Delay dan Cerebral Palsy

Para pelajar tersebut tidak hanya menyediakan tes IQ dan minat bakat.Peserta juga dapat mengikuti pemeriksaan gaya belajar, tes kepribadian, hingga screening kesehatan mental. Sasaran kegiatan meliputi siswa SD kelas 4-6, pelajar SMP, hingga mahasiswa yang membutuhkan tes minat karier.

Setelah proses pemeriksaan selesai, setiap peserta akan memperoleh hasil yang disampaikan melalui sesi konsultasi bersama psikolog.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: