GPH Indrokusumo Ungkap Ada 700 Set Gamelan di Amerika, Minta Budaya Jogja Dijaga

GPH Indrokusumo Ungkap Ada 700 Set Gamelan di Amerika, Minta Budaya Jogja Dijaga

Hadeging Kadipaten Pakualaman, GPH Indrokusumo, Jumat (21/8/2026), mengungkap ada sekitar 700 set gamelan di Amerika Serikat dan mengajak masyarakat menjaga warisan budaya Yogyakarta. Ia menilai pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Hadeging Kadipaten Pakualaman, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Indrokusumo, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 700 set gamelan yang tersebar di Amerika Serikat. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa warisan budaya Yogyakarta harus terus dijaga dan dikembangkan agar tidak diambil atau diklaim pihak lain.

GPH Indrokusumo menyebutkan masyarakat memiliki kewajiban untuk memelihara sekaligus mengembangkan warisan budaya agar tidak hilang ataupun diambil pihak lain. Dia menjadikan gamelan sebagai contoh nyata bagaimana budaya Jawa telah berkembang hingga mancanegara.

“Gamelan itu kalau diketahui di Amerika, dengan 52 negara bagian, ada 700 set gamelan,” ungkapnya di Pura Pakualaman, Jumat (21/8/2026), 

Menurutnya, keberadaan gamelan di luar negeri memang menunjukkan bahwa kesenian Jawa telah mendunia. Namun di sisi lain, kondisi itu juga harus menjadi perhatian agar Indonesia tidak kehilangan kepemilikan atas warisan budayanya.

BACA JUGA : Hadeging Pakualaman ke-214 Digelar Meriah, Pasar Sewandanan Hadirkan 40 UMKM dan Seniman Legendaris

BACA JUGA : Tingalan Wiyosan-Dalem KGPAA Paku Alam X ke-65 Digelar Khidmat di Pura Pakualaman

“Siapa tahu dia mempelajari cara membuatnya, terus memproduksi sendiri, kan kita kecolongan,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pelestarian budaya harus dimulai dari daerah asalnya sendiri. 

“Kalau tidak dipelihara, tidak dikembangkan di sini, terus siapa?” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, GPH Indrokusumo membagikan pengalaman yang menurutnya menggambarkan tingginya penghargaan masyarakat luar negeri terhadap gamelan. Dia bercerita pernah ditegur seorang turis asal Amerika saat menyaksikan persiapan pertunjukan wayang malam Suro.

BACA JUGA : Naskah Kuno Kadipaten Pakualaman Dirawat Berkala, dari Tradisional hingga Digitalisasi

BACA JUGA : Tinjau Program Mas Jos di Pakualaman dan Kraton, Hasto Komitmen Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Saat itu, penata gamelan melangkahi perangkat gamelan ketika sedang menata alat musik tersebut.

“Dia marah. ‘Duh, kok gamelan dilumpati?’ Di Amerika sekarang enggak boleh. Gamelan dilompati itu enggak boleh, harus dibuatin jalan,” kenangnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait