Belajar Menjadi Kolumnis yang Baik: Menulis, Ditolak, Lalu Belajar Lagi

Belajar Menjadi Kolumnis yang Baik: Menulis, Ditolak, Lalu Belajar Lagi

Menjadi Kolumnis yang Baik: Menulis, Ditolak, Lalu Belajar Lagi--FOTO : Dokumentasi Pribadi

BANTUL, diswayjogja.id — Menjadi penulis kolom yang berkualitas bukan perkara sekali menulis lalu langsung dimuat. Ada proses panjang, penolakan berulang, kepekaan membaca isu, hingga keberanian terus memperbaiki tulisan. Pengalaman tersebut dibagikan Yusuf Maulana, yang mulai menulis di koran sejak 1999.

Tulisan pertamanya dimuat di koran lokal Bernas. Saat itu ia mengangkat isu kekejaman Zionis Israel yang dikaitkan dengan refleksi Maulid. Dari media lokal itulah ia kemudian belajar membangun tradisi menulis sebelum mencoba menembus media nasional.

Menurut Yusuf, pada era Reformasi hingga sekitar 2004, aktivitas mahasiswa dan aktivis masih sangat erat dengan dunia menulis. Banyak aktivis kampus menjadikan koran sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus mengasah kemampuan berpikir.

“Waktu itu cita-cita kalangan aktivis, di sela-sela aksi massa, juga menulis. Koran seperti Kompas menjadi idaman. Bertahun-tahun ditolak berkali-kali itu biasa,” kata Yusuf.

BACA JUGA : Bijak Menulis dan Mengunggah Kasus Bunuh Diri, Psikiater: Media Sosial dan Media Massa Punya Peran Edukasi

BACA JUGA : Dee Lestari Ungkap Tantangan Menulis Novel: Dimensi Ini Aja Belum Kelar, Gimana Dimensi Lain?

Ia sendiri mengaku harus melewati sekitar 50 kali penolakan sebelum tulisannya pertama kali dimuat di Kompas. Namun, penolakan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajar.

“Kegagalan itu hal yang biasa. Bahkan penolakan, respons, jawaban, dan kritik dari redaktur Kompas itu membangun,” ujarnya.

Yusuf menilai salah satu kunci menjadi kolumnis adalah memiliki passion yang kuat. Penulis juga harus rajin mengamati persoalan di sekitarnya, memahami isu yang sedang berkembang, serta mengetahui karakter media yang dituju.

“Yang pertama passion yang kuat. Kalau sudah ketemu itu, kita akan bisa mendapatkan minat yang disukai redaksi. Selain niat, yang kedua adalah mengamati,” katanya.

BACA JUGA : Pengamat Media : Saran Buat Presiden, Komunikasi Politik Perlu Lebih Akurat dan Menghargai Publik

BACA JUGA : Hindari Jadi Korban dan Penyebar Hoaks, Komunitas Jogja Menyapa Ajak Warga Bijak Bermedia Sosial

Ia mengenang, pada masa awal menulis, informasi mengenai isu aktual justru banyak diperoleh dari koran-koran yang tersedia di warung maupun kios sekitar tempat tinggalnya. Kebiasaan sederhana itu membentuk kepekaan dalam membaca persoalan.

Menurutnya, tulisan yang ditolak tidak harus langsung dibuang. Penulis perlu membaca kembali naskahnya, mencari kelemahan, memperbaikinya, kemudian mempertimbangkan media lain yang memiliki karakter berbeda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: