Di Kampung Ini, Parut Kayu Tradisional Masih Bertahan Melawan Gempuran Peralatan Dapur Modern
Di Kampung Ini, Parut Kayu Tradisional Masih Bertahan Melawan Gempuran Peralatan Dapur Modern--istimewa
SLEMAN, diswayjogja.id – Di saat peralatan dapur modern berbahan stainless steel hingga mesin pemarut listrik semakin mendominasi pasar, sebuah kampung kecil di Padukuhan Badran Kidul, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, justru masih mempertahankan kerajinan parut kayu tradisional yang dibuat sepenuhnya dengan tangan. Bukan sekadar bertahan, produk ini bahkan tetap diburu pembeli dari berbagai daerah karena kualitasnya yang sulit ditandingi produk pabrikan.
Di kampung tersebut, kini hanya tersisa sekitar 16 pengrajin yang masih setia membuat parut kayu. Salah satunya Heni Prasetyowati, perempuan yang telah menggeluti kerajinan itu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Baginya, membuat parut bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan keluarga yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Keterampilan itu dipelajari tanpa sekolah khusus, melainkan dengan mengamati orang tuanya bekerja setiap hari hingga akhirnya mampu menghasilkan parut berkualitas sendiri.
"Selama masih ada yang mencari kualitas, kami akan terus membuat parut tradisional. Dulu saya belajar hanya dengan melihat orang tua membuat parut. Lama-lama mencoba sendiri sampai bisa. Hasil jual parut juga dipakai untuk biaya sekolah," kata Heni dikutip dari Diskominfo Sleman.
BACA JUGA : Kabar Baik untuk UMKM, Listing Fee Dihapus dan Produk Berpeluang Masuk 500 Jaringan Ritel Modern
Rahasia keawetan parut Badran Kidul terletak pada pemilihan bahan baku. Para pengrajin tetap menggunakan kayu melinjo sebagai papan utama karena memiliki serat yang halus, tidak mudah retak, dan tidak memengaruhi rasa maupun warna bahan makanan saat digunakan.
Sementara bagian pemarut dibuat dari kawat baja yang dipasang satu per satu menggunakan teknik tradisional atau dikenal dengan istilah matik. Seluruh proses masih mengandalkan palu, catut, dan ketelitian tangan pengrajin, tanpa bantuan mesin.
Dalam sehari, Heni mampu menyelesaikan antara tiga hingga tujuh buah parut. Proses yang paling menyita waktu adalah memasang ratusan kawat baja ke papan kayu agar tersusun rapi dan kuat sehingga nyaman digunakan.
"Kalau dari pagi sampai sore bisa selesai sekitar tujuh parut. Yang paling sulit itu proses matik, memasang kawat ke kayu melinjo agar hasilnya rapi dan kuat," ujarnya.
BACA JUGA : Pengolahan Sampah Plastik Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi, Desa Wisata Wirokerten Kian Berkembang
BACA JUGA : Dari Kota Malang, Candyco Kembangkan Kerajinan Rajut Custom dengan Dukungan BRI dan LinkUMKM
Tantangan terbesar saat ini justru datang dari ketersediaan bahan baku. Kayu melinjo yang dahulu mudah diperoleh kini semakin sulit dicari sehingga harus didatangkan dari Kabupaten Kulon Progo. Meski demikian, para pengrajin memilih mempertahankan bahan tersebut daripada menggantinya dengan jenis kayu lain yang dianggap dapat menurunkan kualitas produk.
Meski dijual dengan harga sekitar Rp15 ribu per buah di pasar tradisional, parut produksi Badran Kidul telah dipasarkan hingga Kalasan, Temanggung, Wonosobo, Boyolali, Magelang, bahkan menjadi buah tangan bagi warga perantauan yang membawanya ke Lampung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
