Panas Ekstrem Tak Lagi Sekadar Gerah, Heat Stroke Bisa Berakibat Fatal
Panas Ekstrem Tak Lagi Sekadar Gerah, Heat Stroke Bisa Berakibat Fatal--FOTO : Ist/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Cuaca panas yang belakangan terasa semakin menyengat di berbagai wilayah Indonesia bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat memicu heat stroke, kondisi darurat medis ketika tubuh kehilangan kemampuan mengendalikan suhu sehingga berisiko menyebabkan kerusakan organ, gangguan otak, bahkan kematian apabila tidak segera ditangani.
Risiko tersebut perlu diwaspadai, terutama saat seseorang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, berada di lingkungan yang panas dalam waktu lama, atau mengalami dehidrasi. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan akibat panas ekstrem.
Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Aditya Lia Ramadona, menjelaskan heat stroke merupakan bentuk gangguan kesehatan paling berat akibat paparan panas.
"Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak," kata Aditya, Jumat (10/7).
BACA JUGA : Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut, Pakar UGM Sebut Efek Urban dan AC Perparah Suhu Kota
BACA JUGA : 5 Es Dawet Enak Yogyakarta, Kesegarannya Cocok Dinikmati Saat Cuaca Panas
Menurutnya, masih banyak masyarakat menganggap cuaca panas sebagai hal yang wajar karena Indonesia merupakan negara tropis. Padahal, kenaikan suhu yang tampak kecil sekalipun dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan. Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta menunjukkan kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkorelasi dengan peningkatan kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer hingga 15,5 persen.
Aditya juga mengingatkan bahwa paparan panas tidak hanya terjadi saat berada di luar ruangan. Penelitian menunjukkan suhu di dalam rumah, terutama rumah yang dihuni lansia, justru bisa lebih tinggi dibandingkan suhu udara di luar sehingga meningkatkan risiko heat stress.
Ia mengimbau masyarakat untuk mencukupi kebutuhan cairan, mengenakan pakaian yang ringan, menghindari aktivitas fisik berat saat siang hari, serta segera mencari tempat teduh apabila mulai muncul gejala seperti pusing, lemas, kebingungan, suhu tubuh meningkat, atau penurunan kesadaran.
"Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial. Karena itu, perubahan perilaku perlu didukung kebijakan, mulai dari pengaturan jam kerja, desain kota yang lebih teduh, hingga sistem peringatan dini," tegasnya.
BACA JUGA : Monsun Timur Menguat, Warga DIY Diminta Waspada Angin Kencang dan Cuaca Kering
BACA JUGA : Sleman Siaga Kemarau 9 Bulan, Daerah Rawan Air dan Antisipasi Kebakaran Dipetakan
Ia menambahkan, sistem peringatan dini terhadap panas ekstrem yang disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah menjadi salah satu langkah penting agar dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


