SMAN 2 Bantul Minta Maaf Terkait Dugaan Perundungan, Disdikpora DIY Serahkan Asesmen ke DP3APPKB
SMAN 2 Bantul menyampaikan permintaan maaf terkait dugaan perundungan dan kekerasan psikologis yang viral di media sosial. Disdikpora DIY menyerahkan asesmen kasus kepada DP3APPKB Bantul untuk ditangani sesuai SOP.--dok. SMAN 2 Bantul
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - SMA Negeri 2 Bantul menyampaikan permohonan maaf secara terbuka menyusul mencuatnya dugaan kasus perundungan dan kekerasan psikologis yang ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Kepala SMAN 2 Bantul, Isti Fatimah, menyatakan penyesalan atas situasi yang terjadi dan menyampaikan permohonan maaf kepada penyintas, keluarga, serta masyarakat luas.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada pihak penyintas, keluarga, serta masyarakat luas atas ketidaknyamanan dan situasi yang terjadi," ujarnya melalui keterangan tertulis pada Sabtu (20/6/2026).
SMAN 2 Bantul juga menegaskan komitmennya untuk bersikap terbuka dan kooperatif apabila nantinya terdapat proses investigasi maupun evaluasi terkait kasus tersebut.
BACA JUGA : Kasus Dugaan Perundungan di SMAN 2 Bantul Jadi Sorotan, Pihak Sekolah Memberikan Bantahan
BACA JUGA : Laporan ke Kemendikdasmen Berbuntut Panjang, Polemik SMAN 2 Yogyakarta Kian Memanas
Sekolah menyatakan siap bertanggung jawab apabila ditemukan adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang, ataupun kelalaian yang dilakukan oleh oknum pengajar maupun pihak sekolah.
"Apabila di kemudian hari terbukti adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang, maupun kelalaian yang dilakukan oleh oknum pengajar atau pihak sekolah, kami siap menerima sanksi serta konsekuensi sesuai dengan aturan kepegawaian dan perundang-undangan yang berlaku," katanya.
Selain itu, sekolah menyebut kasus ini akan dijadikan momentum evaluasi untuk memperbaiki lingkungan belajar agar lebih aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Perhatian publik terhadap kasus ini bermula dari unggahan seorang lulusan di media sosial Threads yang menceritakan pengalaman traumatis selama bersekolah. Dalam unggahannya, penyintas mengaku mengalami perlakuan tidak adil, fitnah, hingga diskriminasi yang diduga dilakukan oleh oknum pendidik.
BACA JUGA : Kisah Bocah SD Boyolali yang Koma, Diduga Jadi Korban Bullying di Sekolah
BACA JUGA : Wakil Rektor UGM Sebut kegiatan Pionir di Fakultas Tanpa Perundungan dan Kekerasan
Penyintas juga mengunggah bukti rekam medis yang menyatakan dirinya mengalami gangguan mental berat akibat pengalaman tersebut.
Menanggapi hal itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menegaskan tidak akan berkompromi terhadap dugaan perundungan maupun kekerasan psikologis yang terjadi di lingkungan pendidikan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

