Peyek Tumpuk Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Tapi Produsen Semakin Langka

Peyek Tumpuk Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Tapi Produsen Semakin Langka

peyek tumpuk produksi Paijo-dhani-Paijo

BANTUL, diswayjogja.id — Bentuknya jauh dari kesan rapi. Tidak tipis dan lebar sebagaimana tampilan peyek pada umumnya. Peyek tumpuk khas Bantul justru tampil tebal, menggumpal, dan tidak beraturan menyerupai bongkahan kecil. Namun di balik tampilannya yang sederhana itu, tersimpan cita rasa khas yang membuat kuliner tradisional ini tetap banyak penikmatnya.

Keunikan peyek tumpuk bahkan mengantarkannya diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kuliner legendaris asal Kabupaten Bantul ini juga pernah mencatatkan namanya dalam Rekor MURI karena ukuran dan bobotnya yang jauh lebih besar dibanding peyek pada umumnya.

Meski bentuknya terlihat padat dan menggumpal, rasa peyek tumpuk justru tetap gurih hingga bagian tengah. Teksturnya tidak keras sebagaimana yang dibayangkan banyak orang.

Paijo, produsen peyek tumpuk merk Suka Rasa dari Kalurahan Bangunjiwo, mengatakan proses pembuatan yang dilakukan secara bertahap,  membuatnya bagian perbagian sehingga tengah peyek tetap renyah dan bercita rasa gurih.

“Peyek tumpuk kami rasa gurihnya sampai tengah. Bagian tengah itu tidak keras. Itu kelebihan peyek tumpuk khas Bantul ini,” ujar Paijo.

BACA JUGA : Budidaya Lidah Buaya Organik, Usaha Menarik yang Jarang Dilirik

BACA JUGA : Kuliner Legendaris Sekitar Alun-Alun Bandung 2026, Destinasi Wajib Pecinta Rasa Autentik

Namun di tengah pengakuan peyek tumpuk  sebagai produk warisan budaya tak benda, keberadaan peyek tumpuk justru semakin sulit ditemukan di pasaran. Bukan karena tingginya permintaan atau habis diborong pembeli, melainkan semakin sedikitnya produsen yang masih bertahan membuat kuliner tradisional tersebut.

Minimnya generasi penerus menjadi persoalan utama. Banyak anak muda tidak lagi melanjutkan usaha keluarga yang telah diwariskan turun-temurun. Paijo mengaku, di wilayah tempat tinggalnya kini hanya dirinya bersama keluarga yang masih mempertahankan produksi peyek tumpuk.

Kondisi itu membuat peyek tumpuk mulai dianggap sebagai kuliner tradisional langka,  yang terancam keberadaannya. Karena itulah, kuliner khas Bantul ini kini turut dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata dalam paket kemasan wisata jalur Pangeran Diponegoro, yang ditawarkan kepada para pelaku wisata agar dikunjungi. Hal ini bertujuan Kembali mempopulerkan produk peyek unik ini. Jika populer, harapannya minat warga sekitar  untuk memproduksi Kembali peyek tumpuk kembali muncul.

BACA JUGA : Sarapan Hangat di Bandung, Berikut Kupat Tahu Legendaris di Bandung Paling Wajib Dicoba

BACA JUGA : Bakso Malang Terpopuler di Kota Batu, Pilihan Sempurna Makan Malam saat Cuaca Dingin

Melalui wisata kuliner berbasis budaya tersebut, peyek tumpuk diharapkan tidak hanya dikenal sebagai oleh-oleh khas Bantul, tetapi juga mampu menarik minat generasi muda untuk ikut melestarikan warisan kuliner tradisional yang mulai langka ini.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: