Menelusuri Filosofi Kuliner Khas Perayaan Imlek, Makna di Balik Hidangan

Menelusuri Filosofi Kuliner Khas Perayaan Imlek, Makna di Balik Hidangan

Kue Keranjang--

diswayjogja.id – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Suasana meriah yang didominasi warna merah dan emas tidak hanya sekadar hiasan visual, tetapi juga merupakan manifestasi dari harapan akan masa depan yang lebih cerah. Di balik riuhnya suara petasan dan gemulainya tarian barongsai, terdapat satu elemen krusial yang menyatukan seluruh anggota keluarga, yakni tradisi makan bersama. Jamuan makan ini bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan sebuah ritual sakral yang sarat akan doa dan simbolisme.

Setiap keluarga Tionghoa biasanya mulai sibuk berbenah dan menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari sebelum hari H tiba. Persiapan ini mencakup pembersihan rumah untuk membuang kesialan tahun lalu, hingga pemilihan bahan makanan terbaik yang akan disajikan di meja makan. Bagi masyarakat Tionghoa, apa yang dimakan saat pergantian tahun diyakini akan menentukan nasib dan keberuntungan mereka selama dua belas bulan ke depan. Oleh karena itu, pemilihan menu tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena setiap hidangan membawa pesan moral dan spiritual yang mendalam.

Kuliner dalam konteks Imlek adalah sebuah bahasa tanpa kata yang mengomunikasikan aspirasi manusia terhadap kesejahteraan, kesehatan, dan keharmonisan. Tradisi kuliner ini telah diwariskan secara turun-temurun selama ribuan tahun, menjembatani generasi masa lalu dengan generasi masa kini. Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, cara masyarakat mempertahankan resep-resep klasik dan cara penyajian yang otentik menunjukkan betapa kuatnya akar budaya yang mereka miliki. Makanan menjadi media pembelajaran bagi generasi muda tentang nilai-nilai kehidupan dan pentingnya menjaga ikatan kekeluargaan.

Pasar-pasar tradisional dan pusat perbelanjaan biasanya akan dipenuhi oleh aroma harum masakan dan tumpukan buah-buahan segar saat musim Imlek mendekat. Fenomena ini menciptakan gairah ekonomi sekaligus kegembiraan sosial yang luar biasa. Dari sudut dapur yang mengepulkan uap panas hingga meja bundar yang penuh dengan tawa, makanan khas Imlek menjadi benang merah yang menjahit kebahagiaan di setiap rumah. Untuk memahami lebih dalam mengapa makanan-makanan ini begitu spesial, mari kita telusuri daftar kuliner wajib yang sering kali menghiasi meja makan saat perayaan berlangsung.

BACA JUGA : Masuk Daftar 10 Rekomendasi Tempat Makan Paling Hits di Kawasan Canggu

BACA JUGA : Ayam Goreng di Kota Malang Paling Menggugah Selera Jadi Resep Warisan hingga Kreasi Modern

Kue Keranjang

Kue keranjang, yang dalam bahasa asalnya dikenal sebagai Nian Gao, menduduki posisi puncak dalam hierarki kuliner Imlek di tanah air. Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula merah ini memiliki karakteristik yang unik, yakni teksturnya yang sangat lengket dan rasa manis yang dominan. Kelengketan ini secara filosofis melambangkan harapan agar ikatan antar anggota keluarga tetap kuat dan tidak mudah terpecah belah, layaknya daya rekat kue tersebut.

Secara harfiah, nama Nian Gao merujuk pada frasa "tahun yang lebih tinggi". Maknanya adalah sebuah doa agar setiap orang mengalami peningkatan dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu dalam karier, pendidikan, maupun kesejahteraan finansial. Biasanya, kue ini disusun bertumpuk untuk mempertegas simbolisme kenaikan derajat. Dalam penyajiannya, banyak orang yang menikmatinya secara langsung, namun tidak sedikit pula yang mengolahnya kembali dengan cara digoreng menggunakan adonan tepung atau sekadar dikukus dan ditaburi parutan kelapa gurih untuk menyeimbangkan rasa manisnya.

Mi Panjang Umur

Hidangan berikutnya yang tidak kalah penting adalah Siu Mie atau yang lebih akrab disapa Mi Panjang Umur. Kehadiran mi ini di atas meja makan menjadi representasi dari harapan akan kesehatan yang prima dan usia yang panjang bagi seluruh anggota keluarga. Keunikan dari mi ini terletak pada bentuknya yang sangat panjang dan proses memasaknya yang harus sangat hati-hati agar helai-helai mi tersebut tidak terputus.

Menurut kepercayaan tradisional, memotong mi saat sedang memasak atau menyantapnya dianggap tabu karena disimbolkan sebagai memutus garis umur. Oleh karena itu, cara makan yang benar adalah dengan menyeruput mi tersebut secara utuh hingga masuk ke dalam mulut. Biasanya, mi ini diolah dengan bumbu yang gurih, dicampur dengan berbagai sayuran segar, telur puyuh, hingga potongan daging, menjadikannya hidangan yang tidak hanya bermakna secara spiritual tetapi juga sangat memanjakan lidah.

Jeruk Mandarin

Tidak ada meja makan Imlek yang lengkap tanpa kehadiran tumpukan jeruk mandarin yang berwarna oranye cerah. Warna jeruk ini sangat identik dengan warna emas, yang dalam budaya Tiongkok merupakan simbol mutlak dari kekayaan dan kemakmuran. Nama jeruk dalam bahasa Mandarin juga terdengar mirip dengan kata "keberuntungan", sehingga buah ini dianggap mampu membawa energi positif ke dalam rumah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: