Tren Pendakian Tektok 2026 Jadi Keajaiban Geologi Gunung Api Purba Nglanggeran

Tren Pendakian Tektok 2026 Jadi Keajaiban Geologi Gunung Api Purba Nglanggeran

Geologi Gunung Api Purba Nglanggeran--

diswayjogja.id – Sektor pariwisata berbasis alam di Daerah Istimewa Yogyakarta terus menunjukkan taringnya sebagai magnet utama bagi para pelancong domestik maupun mancanegara. Di tengah kepopuleran pantai-pantai berpasir putih, Kabupaten Gunungkidul menyimpan sebuah harta karun geologi yang tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga nilai sejarah bumi yang tak ternilai harganya. Gunung Api Purba Nglanggeran, sebuah formasi batuan andesit raksasa yang menjulang gagah, kini semakin memantapkan posisinya sebagai destinasi unggulan bagi mereka yang mendambakan petualangan fisik singkat namun berkesan.

Memasuki tahun 2026, tren wisata "Tektok" atau pendakian satu hari tanpa menginap semakin digandrungi oleh masyarakat urban yang memiliki keterbatasan waktu. Nglanggeran menjadi jawaban paling tepat bagi fenomena ini karena lokasinya yang relatif mudah dijangkau dan jalur pendakiannya yang ramah bagi pemula. Di sini, pengunjung tidak perlu membawa perlengkapan berat seperti tenda atau peralatan masak yang rumit. Cukup dengan persiapan fisik standar dan bekal minimalis, setiap orang bisa merasakan sensasi menaklukkan puncak gunung yang pernah aktif jutaan tahun silam ini.

Fenomena keunikan Nglanggeran tidak hanya terletak pada struktur fisiknya yang berupa tumpukan batu purba, tetapi juga pada ekosistem sosial budaya yang melingkupinya. Desa Wisata Nglanggeran, tempat gunung ini berada, telah diakui secara internasional sebagai salah satu desa wisata terbaik yang mampu menyatukan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Hal ini membuat pengalaman berkunjung ke sini terasa lebih bermakna, karena wisatawan tidak hanya sekadar datang untuk berfoto, tetapi juga ikut berkontribusi dalam mendukung keberlanjutan sebuah situs warisan dunia.

Pesona matahari terbit yang muncul dari balik hamparan awan hingga pemandangan kerlip lampu kota Jogja di malam hari menjadikan Gunung Nglanggeran sebagai panggung alam yang spektakuler. Bagi para pecinta fotografi maupun pengguna media sosial, setiap sudut di jalur pendakian ini menawarkan komposisi visual yang luar biasa, mulai dari lorong-lorong batu yang sempit hingga panorama puncak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Keberagaman daya tarik inilah yang membuat Nglanggeran tetap menjadi pilihan utama di tengah bermunculannya berbagai destinasi wisata baru di tanah Jawa.

BACA JUGA : Rekomendasi Destinasi Wisata Pegunungan Paling Sejuk dan Ekonomis di Salatiga, Berikut Info Lengkapnya

BACA JUGA : Penutupan Total Jalur Pendakian Gunung Merbabu Akibat Cuaca Ekstrem 2026

Jejak Rekam Geologi

Secara ilmiah, Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan salah satu formasi vulkanik tertua yang ada di wilayah Indonesia. Para ahli geologi memperkirakan bahwa struktur batuan ini telah terbentuk sekitar 60 hingga 70 juta tahun yang lalu. Fakta yang paling mengejutkan adalah bahwa gunung ini awalnya berada di dasar samudera. Melalui proses tektonik dan aktivitas vulkanik yang berlangsung selama jutaan tahun, endapan tersebut perlahan terangkat hingga muncul ke permukaan bumi seperti yang kita lihat saat ini.

Material penyusun utama gunung ini didominasi oleh batuan aglomerat dan breksi gunung api yang sangat keras. Formasi ini secara spesifik terbentuk pada periode Oligosen hingga Miosen. Karena nilai keunikan dan sejarah geologinya yang sangat panjang, kawasan ini telah ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Gunung Sewu yang diakui oleh UNESCO. Penghargaan internasional seperti ASEAN Sustainable Tourism Award juga menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan situs purba ini dilakukan dengan standar pelestarian yang sangat tinggi.

Legenda "Nglanggar" dan Misteri Kampung Pitu

Di balik keagungan struktur batuannya, masyarakat lokal menyimpan narasi budaya yang sangat kuat mengenai asal-usul tempat ini. Nama Nglanggeran diyakini berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu "Nglanggar" yang berarti melanggar aturan atau norma. Alkisah, terdapat legenda tentang penduduk desa yang dikutuk menjadi sosok pewayangan karena merusak peralatan milik seorang dalang sakti saat pesta panen berlangsung. Hingga saat ini, kepercayaan bahwa gunung ini dijaga oleh tokoh pewayangan Punokawan, Kyai Ongko Wijoyo, masih tetap lestari di kalangan penduduk lokal.

Selain legenda pewayangan, daya tarik mistis lainnya terletak pada keberadaan Kampung Pitu. Sesuai namanya, kampung yang berada di area puncak ini hanya boleh dihuni oleh tepat tujuh kepala keluarga. Jika jumlahnya melebihi atau kurang dari itu, masyarakat setempat percaya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terdapat pula Mata Air Comberan, sebuah sumber air suci di atas gunung yang konon tidak pernah mengering meski musim kemarau panjang melanda, menambah lapisan keunikan bagi wisatawan yang menyukai wisata minat khusus berbasis budaya dan religi.

BACA JUGA : Menelusuri Keindahan Pantai Drini dan Pantai Sundak Gunungkidul Jogja, Cek Ulasan Selengkapnya Disini

BACA JUGA : Destinasi Ikonik Kedamaian Nepal Van Java di Atas Awan Lereng Gunung Sumbing, Simak Ulasan Lengkapnya Disini

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: