Batik Metaflora Pekalongan, Dari Canting ke AI: Success Story UMKM Binaan BI Tegal

Batik  Metaflora Pekalongan, Dari Canting ke AI: Success Story UMKM Binaan BI Tegal

BATIK - Sejumlah anak antusias belajar pola batik Meta Flora Falahy Muhammad yang kini mampu menembus pasar global dengan pemanfaatan teknologi AI.-BAKTI/ RADAR PEKALONGAN -

PEKALONGAN, diswayjogja.id - Di Kota Pekalongan, batik bukan sekadar kain, melainkan denyut kebudayaan yang terus mencari bentuk baru agar tetap hidup.  

Dari denyut itulah Metaflora lahir, sebuah studio batik yang tumbuh dari riset, kegelisahan ekologis dan keberanian generasi muda membaca zaman.  

Pendiri Meta fora, Falahy Mohamad, adalah perajin batik asal Kelurahan Setono, Kecamatan Pekalongan Timur, yang justru dating dari latar belakang arsitektur.  

“Saya sebenarnyatidak punya latarbelakang membatik sama sekali, orang tua saya juga bukan pembatik,” ujar Falahy.  

Titik balik hidupnya terjadi saat Pandemi Covid-19. Lulusan profesi arsitek Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu pulang ke Pekalongan ketika aktivitas ekonominya nyaris berhenti total.

BACA JUGA : Produk Sapu Rayung Watukumpul Binaan KPwBI Tegal Sukses Ekspor ke Luar Negeri

BACA JUGA : Mandiri Berdikari dan Berkesinambungan, Cara Kelompok Tani Mekar Jaya Wujudkan Klaster Bawang Merah di Brebes

“Waktu Pandemi itu saya pulang ke Pekalongan dan punya jeda untuk introspeksi diri,” katanya.  

Sebagai arsitek, Falahy terbiasa melihat ruang sebagai relasi antara manusia, aktivitas, dan kebudayaan. Kesadaran itu menemukan rumahnya saat ia kembali melihat batik di kota kelahirannya.  

“Saya baru sadar kebudayaan kita itu sangat kaya, salah satunya batik,” ujarnya.  

Ketertarikan itu membuatnya membeli banyak buku, lalu mengambil langkah tak lazim dengan kuliah di Program Studi Teknologi Batik Universitas Pekalongan pada 2020.  

Di saat bersamaan, banyak pembatik kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

“Justru ketika semuanya berhenti, saya memulai, belajar bareng, dan bekerja bareng dengan pembatik-pembatik yang dirumahkan,” tuturnya.

BACA JUGA : Dari Salon Sepi ke Tas Kelas Dunia: Zo’s The Label, Karya Perempuan Tegal yang Menembus Pasar Ekspor

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: