Maraknya Aksi Kekerasan di Kalangan Mahasiswa, Tanda Masyarakat "Sakit",

Maraknya Aksi Kekerasan di Kalangan Mahasiswa, Tanda Masyarakat

JOGJAKARTA (Disway Jogja) - Munculnya berbagai tindakan kekerasan dari masyarakat, termasuk kenekatan seorang mahasiswa di salah satu kampus di Jogja membakar temannya sendiri, menjadi tanda bahwa masyarakat saat ini sedang "sakit". Masyarakat, secara umum semakin kehilangan tempat bersandar. Mereka menjadi manusia yang kehilangan arah, mudah putus asa, mudah emosi dan sulit menerima keadaan dengan rasa ikhlas penuh kesadaran bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah.

Hal ini diungkapkan pemerhati sosial dari Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY), Dra Hj Difla Nadjih MS, terkait makin maraknya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan masyarakat, termasuk di Jogjakarta.

Menurut Difla, apa yang kerap dipertontonkan masyarakat belakangan ini, merupakan cerminan dari sakit mental masyarakat.

Kehidupan, katanya, sesungguhnya adalah challenge, the game of life. Untuk memenangkan permainan ini, maka seseorang harus mempunyai ability. Menghadapi berbagai persoalan kehidupan saat ini, maka seseorang tidak cukup bermodalkan permakluman, memaafkan ketika kita disakiti.

Itu, menurut Difla akan sangat sulit dilakukan. Untuk mampu keluar dari kondisi semacam ini, maka setiap orang harus punya sandaran agama.

"Memang, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Banyak hal yang membuat masyarakat kita sekarang "jauh" dari sandaran agama. Masyarakat itu perlu contoh, perlu tauladan. Jadi menurut saya memang tidak cukup kalau hanya tokoh agama mengajak kita kembali ke agama. Para pemimpin, guru, bahkan kita orang tua, juga harus bisa menjadi tauladan. Agar anak anak kita bisa menjadikan agama sebagai sandaran hidup. Apapun agama kita," kata Difla.

Norma agama menjadi variabel terpenting dan utama dalam proses pembentukan sikap, perilaku atau bahkan  kepribadian. Maka norma agama janganlah diacak acak. Setiap agama mengandung unsur keyakinan, ibadah dan muamalah. Yang bisa masuk dalam ranah toleransi adalah unsur muamalah. Sedangkan menyangkut keyakinan dan ibadah, masing-masing agama hatus berdiri sendiri.

Penanggungjawab Lab Konseling dan Terapi Komplementer Fakultas Agama Islam UCY ini menambahkan, kehadiran medsos juga membawa dampak sangat besar bagi perilaku masyarakat. medsos membuka ruang bagi siapapun untuk membanding-bandingkan manusia berdasarkan opini masing-masing. Padahal opini itu berasal dari olah pikir manusia yang bersumber dari pengalaman, pengetahuan dan kepentingan saja.
"Tanpa dilambari akhlak, yakni perilaku yang berkesuaian dengan kehendak Sang Khaliq, hanya akan mengacaukan sikap san kepribadian kita," lanjutnya.

Selain contoh dan tauladan, Difla juga melihat pentingnya sekolah-sekolah memberikan muatan yang cukup terhadap materi materi akhlak. Sangat penting bagaimana sekolah bisa membangun kesadaran bahwa semua orang punya bekal yabg sangat cukup untuk menghadapi setiap persoalan. Dengan cara ini, maka ke depan akan terbangun manusia manusia yang tangguh dan kuat, baik untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup maupun menghadapi cobaan atau ujian yang datang dalam kehidupan dengan penuh tawakal. (wrj)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: