Sambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, Psikiater Ajak Masyarakat Lebih Peduli Kesehatan Mental

Sambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, Psikiater Ajak Masyarakat Lebih Peduli Kesehatan Mental

Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2026, sejumlah institusi kesehatan, organisasi profesi, dan komunitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menginisiasi edukasi kesehatan mental yang akan disebarluaskan setiap hari hingga 10 Oktober 2026.--FOTO : Istimewa

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2026, sejumlah institusi kesehatan, organisasi profesi, dan komunitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menginisiasi edukasi kesehatan mental yang akan disebarluaskan setiap hari hingga 10 Oktober 2026.

Edukasi ini mengajak masyarakat untuk lebih mengenali kondisi kesehatan mental diri sendiri, memahami emosi, menjaga kualitas tidur, memperhatikan tingkat energi, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Masyarakat juga didorong untuk tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mengalami kesulitan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Psikiater Warih Andan Puspitosari sebagai salah satu partisipan kegiatan edukasi mengajak masyarakat ikut berpartisipasi menyebarkan informasi tersebut agar semakin banyak orang memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa.

“Kita akan edukasi tiap hari sampai tanggal 10. Ayo ikut share,” kata Warih Andan Puspitosari kepada diswayjogja, Sabtu ( 3/10/2026 )

BACA JUGA : Menemukan Ketenangan Jiwa di Air Terjun Kapas Biru Lumajang, Surga Tersembunyi di Lereng Semeru

BACA JUGA : Olahraga, Aktif Bersosialisasi dan Melakukan Hal Positif Dapat Tingkatkan Kesehatan Jiwa

Melalui kampanye ini, edukasi kesehatan mental diharapkan tidak hanya berhenti pada penyampaian informasi, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.

Salah satu materi edukasi yang dibagikan mengajak masyarakat melakukan mental health check-in atau pemeriksaan sederhana terhadap kondisi diri. Langkah ini dilakukan dengan meluangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri mengenai perasaan yang sedang dialami, kualitas istirahat, tingkat energi, dan kemampuan menikmati aktivitas yang disukai.

Selain itu, masyarakat diajak mengevaluasi apakah mereka masih terhubung dengan orang-orang yang dipercaya dan apakah membutuhkan dukungan atau bantuan profesional.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengenali perubahan kondisi emosional dan kebutuhan diri. Namun, pemeriksaan mandiri ini bukan pengganti pemeriksaan maupun diagnosis oleh tenaga kesehatan profesional.

BACA JUGA : Doktor Keperawatan Jiwa Soroti Dugaan KDRT Balita di Bantul, Perlu Pendampingan Korban dan Pemeriksaan Ibu

BACA JUGA : RS Jiwa Grhasia Klarifikasi Dugaan Keracunan Mahasiswa UNISA, Penyebab Masih Diselidiki

Materi edukasi lainnya menyoroti persoalan kesehatan mental pada remaja. Dalam infografis yang dibagikan, disebutkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, atau setara dengan sekitar 15,5 juta jiwa.

Infografis tersebut juga mencantumkan angka 2,6 persen remaja yang mengakses layanan konseling atau fasilitas layanan kesehatan mental. Sementara itu, sebanyak 62 persen disebut bercerita kepada keluarga dan 42 persen kepada teman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait