Kenduri Ageng GUnungkidul di Pantai Baron, 18 Kapanewon Bawa GUnungan dan Ingkung

Kenduri Ageng GUnungkidul di Pantai Baron, 18 Kapanewon Bawa GUnungan dan Ingkung

Kenduri Ageng memperingati Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul digelar di Pantai Baron, Sabtu (3/10/2026) dengan melibatkan perwakilan 18 kapanewon untuk melestarikan tradisi dan memperkuat kebersamaan.--dok. Pemkab GK

GUNUNGKIDUL, diswayjogja.id - Kenduri Ageng dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 digelar di Halaman Parkir Pantai Baron, Kapanewon Tanjungsari, Sabtu (3/10/2026).

Kenduri Ageng tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tradisi sekaligus wujud syukur masyarakat Gunungkidul atas berkah dan keselamatan yang diberikan kepada wa

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarto, menyampaikan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan tersebut bersumber dari Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2026.

Sebanyak 18 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Masing-masing perwakilan membawa perlengkapan tradisi berupa gunungan, sajen, dan ingkung jangkep.

BACA JUGA : Kenduri Air Hujan, Tradisi Menghormati Air dan Menjaga Alam

BACA JUGA : Tradisi Sapi Melahirkan hingga Kenduri Kampung di Gunungkidul Viral, Warga: Wujud Syukur dan Guyub Rukun

Ke-18 kapanewon tersebut yakni Wonosari, Nglipar, Karangmojo, Playen, Patuk, Tepus, Paliyan, Saptosari, Ponjong, Semin, Rongkop, Girisubo, Tanjungsari, Purwosari, Panggang, Gedangsari, Semanu, dan Ngawen.

Agung Danarto mengatakan, pelaksanaan Kenduri Ageng tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Gunungkidul, tetapi juga menjadi upaya untuk menjaga keberlangsungan tradisi kebudayaan yang ada di masyarakat.

“Maksud dan tujuan diselenggarakannya Kenduri Ageng ini adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah dan keselamatan yang diberikan kepada warga Kabupaten Gunungkidul, sekaligus untuk nguri-uri dan melestarikan tradisi kebudayaan yang ada di Gunungkidul,” ujar Agung.

Semangat pelestarian budaya juga ditegaskan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Menurut Endah, tradisi kenduri memiliki makna mendalam sebagai simbol kepasrahan, kebersamaan, dan gotong royong masyarakat Gunungkidul.

BACA JUGA : Kenduri dan Doa di UGM, Emak-emak Desak Bencana Sumatera Jadi Nasional dan MBG Diprioritaskan

BACA JUGA : Emak-Emak Gelar Kenduri di UGM, Kritik Sistem Pangan dan Kasus Keracunan MBG yang Masih Marak

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, Bupati mengingatkan masyarakat agar tetap mempertahankan identitas dan akar budaya lokal.

Endah berpesan agar masyarakat tidak kehilangan jati diri sebagai orang Jawa dan orang Gunungkidul.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait