Tak Hanya Duduk Diam Menonton, Anak Berkebutuhan Khusus Bisa Masuk ke Dunia Teater
Teater tidak selalu harus dinikmati dengan duduk diam di kursi penonton, memandang panggung dari kejauhan, dan mendengarkan dialog para pemain. Dalam pertunjukan Hutan Indonesia, anak-anak justru diajak masuk ke dalam dunia cerita melalui sentuhan, aroma,--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Teater tidak selalu harus dinikmati dengan duduk diam di kursi penonton, memandang panggung dari kejauhan, dan mendengarkan dialog para pemain. Dalam pertunjukan Hutan Indonesia, anak-anak justru diajak masuk ke dalam dunia cerita melalui sentuhan, aroma, bunyi, boneka, musik, hingga interaksi langsung dengan lingkungan pertunjukan.
Pendekatan teater sensorik ini dikembangkan Frankie (Francis Italiano) dari Sensorium Theatre, Australia, bersama Artground Singapura dan seniman Indonesia. Karya tersebut menjadi salah satu pertunjukan dalam Pesta Boneka #10 yang berlangsung pada 6–11 Oktober 2026.
Kepada media, Jumat (2/10/2026), Frankie menjelaskan bahwa konsep teater yang mereka kembangkan berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pengalaman seni yang lebih mudah diakses anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk mereka yang kesulitan mengikuti format pertunjukan konvensional.
“Kami menggunakan semua indra. Kami menggunakan sentuhan, rasa, dan bau, boneka, serta musik langsung untuk menghidupkan cerita bagi anak-anak,” kata Frankie.
BACA JUGA:Dimulai Dengan Empat Negara, Sekarang 24 Negara, Pesta Boneka Menjadi Ruang Kolaborasi Seniman Dunia
BACA JUGA:Ketika Boneka Menjadi Jembatan Komunikasi, Papermoon Mengajak Penonton Berbicara Lewat Gestur
Menurut Frankie, Hutan Indonesia bukan sekadar pertunjukan yang menempatkan pemain di atas panggung dan penonton di hadapannya. Anak-anak justru diajak menjadi bagian dari lingkungan yang dibangun selama pertunjukan berlangsung.
“ini pertunjukan atau teater tidak seperti yang kita tahu, ini pertunjukan yang mana kita bawa anak anak ke panggung yang kita buat,” ujar Frankie.
Artinya, pertunjukan ini tidak mengikuti pola teater yang selama ini dikenal, melainkan membawa anak-anak masuk ke lingkungan cerita yang diciptakan para seniman.
Melalui pendekatan tersebut, anak-anak memiliki kesempatan untuk menikmati cerita dengan cara yang lebih beragam. Mereka dapat bergerak, menari, menyentuh boneka, merasakan tekstur, serta berinteraksi dengan berbagai elemen pertunjukan sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing.
BACA JUGA:Papermoon Puppet Theatre Buka Jalan Generasi Baru, Anak-anak Diajak Kenal Teater Boneka
Frankie menilai, format pertunjukan konvensional yang mengharuskan penonton duduk tenang di ruangan gelap dan menyaksikan panggung dari kejauhan tidak selalu dapat mengakomodasi kebutuhan setiap anak.
Karena itu, pendekatan sensorik menjadi cara untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Anak-anak tidak hanya menjadi penerima cerita, tetapi juga dapat mengalami dan menjelajahi cerita melalui berbagai indra.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

