Ketika Boneka Menjadi Jembatan Komunikasi, Papermoon Mengajak Penonton Berbicara Lewat Gestur

Ketika Boneka Menjadi Jembatan Komunikasi, Papermoon Mengajak Penonton Berbicara Lewat Gestur

Tidak semua pesan harus disampaikan lewat kata-kata. Di tangan Papermoon Puppet Theatre, gerak tubuh boneka justru dapat menjadi bahasa yang membuka ruang percakapan lebih luas—bahkan ketika tidak ada satu pun dialog terucap di atas panggung.--FOTO : Dok, Papermoon Puppet Theatre

YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Tidak semua pesan harus disampaikan lewat kata-kata. Di tangan Papermoon Puppet Theatre, gerak tubuh boneka justru dapat menjadi bahasa yang membuka ruang percakapan lebih luas—bahkan ketika tidak ada satu pun dialog terucap di atas panggung.

Selama dua dekade berkarya, kelompok teater boneka kontemporer asal Yogyakarta ini menjadikan boneka bukan sekadar objek pertunjukan. Boneka menjadi medium untuk membangun hubungan antara karya, pemain, dan penonton.

Co-Founder sekaligus Co-Artistic Director Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani atau Ria Papermoon, mengatakan pengalaman selama sekitar 20 tahun membuat mereka semakin memahami bahwa manusia membutuhkan sebuah jembatan untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya.

“Selama 20 tahun Papermoon bekerja dengan medium teater boneka, sebenarnya semakin hari kami semakin belajar bahwa ternyata banyak orang itu memang membutuhkan jembatan untuk bisa bicara dengan manusia lain,” kata Ria, Jumat (2/10/2026).

BACA JUGA:Papermoon Puppet Theatre Buka Jalan Generasi Baru, Anak-anak Diajak Kenal Teater Boneka

BACA JUGA:Boneka dari Jogja Bikin Penonton Jerman Berdiri 10 Menit, Papermoon Puppet Theatre Tuai Standing Ovation

Menurutnya, teater boneka hingga kini masih menjadi medium yang dirasakan paling tepat oleh Papermoon untuk membangun komunikasi dan interaksi dengan penonton.

Bagi Papermoon, kekuatan boneka bukan semata-mata terletak pada bentuk visualnya. Justru ketika boneka tidak berbicara, penonton diberi kesempatan lebih besar untuk membaca, menafsirkan, sekaligus merasakan cerita melalui gestur.

Pilihan tersebut membuat gestur menjadi semacam bahasa utama dalam kehidupan boneka-boneka yang mereka ciptakan.

“Pilihan Papermoon untuk menggunakan gestur sebagai bahasa ibu dari boneka yang kami buat sebenarnya ternyata itu membuat penonton bisa punya ruang yang sangat luas untuk menanam atau meletakkan kisah-kisah personal mereka pada karya yang kami bawakan,” ujar Ria.

BACA JUGA:Liburan Edukatif Jakarta Bird Land, Cek Promo Tiket Terbaru dan Jadwal Pertunjukan Burung

BACA JUGA:WJNC Yogyakarta Dievaluasi, Wali Kota Hasto: Penonton Harus Bisa Memahami Makna Pertunjukan

Di titik inilah pertunjukan boneka nirkata memperoleh kekuatannya. Tidak adanya dialog bukan berarti komunikasi berhenti. Sebaliknya, keheningan justru dapat memberi ruang kepada penonton untuk membangun percakapan sendiri dengan karya yang mereka saksikan.

Gerakan sederhana sebuah boneka dapat dibaca berbeda oleh setiap orang. Satu gestur mungkin mengingatkan seseorang pada kehilangan, hubungan keluarga, perjalanan hidup, atau pengalaman lain yang tidak selalu bisa diungkapkan secara langsung.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: