Mengenal Motif Batik Nyawiji Lurik Ciprat Sirip Ikan , Kreasi Baru Batik 2026

Mengenal Motif Batik Nyawiji Lurik Ciprat Sirip Ikan , Kreasi Baru Batik 2026

Sejak 2015, madrasah ini secara konsisten mengembangkan batik sebagai bagian dari identitas sekaligus ruang kreativitas bagi para siswanya. Setiap tahun, berbagai inovasi terus dilakukan. Bukan sekadar menghasilkan kain bermotif, para siswa diajak memaham--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id - Perjalanan batik di MTsN 8 Sleman bukan cerita yang dibangun dalam semalam. Sejak 2015, madrasah ini secara konsisten mengembangkan batik sebagai bagian dari identitas sekaligus ruang kreativitas bagi para siswanya.

Setiap tahun, berbagai inovasi terus dilakukan. Bukan sekadar menghasilkan kain bermotif, para siswa diajak memahami proses kreatif dari hulu hingga hilir, termasuk bagaimana memanfaatkan bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah.

Tahun ini, konsep tersebut dipadukan dengan tema ramah lingkungan. Para siswa kelas 7, 8, dan 9 dilibatkan langsung untuk membuat karya batik dengan memanfaatkan bahan limbah sebagai bagian dari proses pembuatannya.

Rochmad Rapih Raharjo, guru pembimbing keterampilan batik, menjelaskan, perjalanan pengembangan batik di MTsN 8 Sleman bermula dari semangat madrasah untuk terus menciptakan inovasi setiap tahun.

BACA JUGA : Angkat Kekayaan Nusantara, Pameran Meneroka Bawa Batik ke Dimensi Baru

BACA JUGA : Ratusan Difabel Membatik Serentak di Yogyakarta, Karyanya Bakal Tampil di YIA

“MTsN 8 ini kan dari 2015 memang mencerminkan ada madrasah batik. Jadi, untuk setiap tahun madrasah kita membuat sesuatu. Event-event seperti ini wajib. Inovasi dari kegiatan tahun ke tahun itu pasti berubah,” ujar Rochmad kepada diswayjogja, Kamis (1/10/2026)

Menurutnya, konsep yang diusung tahun ini sengaja diarahkan pada pemanfaatan bahan ramah lingkungan. Salah satu inovasinya adalah pembuatan canting cap menggunakan bahan limbah yang disebut triplek.

“Kita mencoba karena kita kolaborasi dengan kurikuler. Batik sendiri di sekolah ini adalah kegiatan intra, dan untuk Kurikulernya itu temanya ramah lingkungan. Kali ini kami ambil dengan menggunakan bahan ramah lingkungan dan membuat anak-anak semuanya terlibat,” katanya.

Para siswa tidak hanya menjadi penonton. Mereka terlibat dalam membuat alat sekaligus menghasilkan karya. Bahan limbah triplek dipotong dan diukur dengan ukuran yang sama, kemudian disusun membentuk motif sesuai kreativitas mereka.

BACA JUGA : Surga Tempat Beli Batik di Solo Paling Murah dan Lengkap Harga Mulai Rp50 Ribuan Saja

BACA JUGA : Fashion on the Street Prawirotaman Ramaikan Kampung Bule, Batik Milenial Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara

“Anak-anak membuat canting cap menggunakan bahan limbah. Limbahnya menggunakan triplek. Akhirnya berdampak jadi seperti ini. Jadi lurik ini dihasilkan dari limbah menggunakan triplek yang disusun menyerupai motif lurik,” jelas Rochmad.

Inovasi tersebut sekaligus menjadi pembeda. Jika canting cap pada umumnya dibuat menggunakan tembaga, MTsN 8 Sleman mencoba menggunakan material limbah sebagai alternatif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: