Gerobak Sapi Kembali Dinikmati Sebagai Wisata Unik, Orderan Tembus 20 Sehari
Gerobak Sapi menjadi daya tarik wisata unik banyak diminati pelancong dari berbagai kota--FOTO : Dhani Irawan / diswayjogja id
Geliat gerobak sapi ternyata tidak berhenti pada penghasilan kusir. Meningkatnya permintaan juga ikut mendongkrak nilai ekonomi sapi putih atau sapi PO yang menjadi tenaga penarik gerobak.
Sapi dengan kemampuan menarik gerobak tersebut kembali memiliki nilai ekonomi karena dibutuhkan untuk mendukung aktivitas wisata berbasis transportasi tradisional.
Fenomena itu salah satunya terlihat di Kampung Kebaya Kembang, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Sleman. Di kawasan tersebut, gerobak sapi menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
BACA JUGA : Keindahan Tersembunyi Destinasi Favorit Wisata Alam dan Budaya di Trawas Mojokerto
BACA JUGA : Bukan Cuma Toba! Ini List Tempat Wisata Kekinian Sumatera Utara yang Lagi Hits
Para kusir tidak hanya mengantar wisatawan. Mereka juga secara tidak langsung menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali tradisi dan kebudayaan masyarakat Jawa.
Kehadiran gerobak sapi memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Kendaraan tradisional yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan kini justru menjadi daya tarik di tengah berkembangnya berbagai destinasi wisata modern.
Yasmin Nasution salah seorang pelancong, merasakan sensasi yang lain. Kalau biasanya naik gerobak ditarik dengan kuda kali ini ditarik dengan sapi.
" Biasanya kalau naik gerobak kita ditarik sama kudan sekarang dengan sapi. Sejak naik sampai jalan rasanya menarik, juga lewat sawah sawah rasanya sebuah pengalaman tersendiri," ujar Yasmin.
Keberadaan desa wisata dan restoran yang menggunakan jasa gerobak sapi menjadi mata perekonomian baru . Sebab, semakin banyak pihak yang membutuhkan jasa mereka, semakin besar pula peluang profesi kusir gerobak sapi untuk bertahan.
Di sisi lain, keberadaan gerobak sapi juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan regenerasi dan kelestarian budaya. Tanpa adanya permintaan, keberadaan transportasi tradisional tersebut berisiko semakin terpinggirkan.
Karena itu, keterlibatan para kusir dalam ekosistem pariwisata menjadi salah satu cara agar gerobak sapi tetap hidup.
“Kalau terus digunakan untuk wisata, gerobak sapi bisa tetap ada. Ini juga membantu melestarikan kebudayaan,” tutur Waldiono.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: