Marbot dan Remaja Masjid Dilatih Manfaatkan Air Wudhu Jadi Nutrisi Tanaman, Warga Bisa Terapkan di Rumah

Marbot dan Remaja Masjid Dilatih Manfaatkan Air Wudhu Jadi Nutrisi Tanaman, Warga Bisa Terapkan di Rumah

UMY bersama UAD mengembangkan inovasi pemanfaatan air wudhu menjadi sistem akuaponik budikdamber di Sleman, diharapkan membantu warga menciptakan kemandirian pangan berbasis teknologi hijau.--dok. UMY

SLEMAN, diswayjogja.id - Kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan inovasi teknologi hijau berbasis masyarakat, di mana keduanya mengedukasi warga untuk memanfaatkan air wudhu menjadi nutrisi tanaman dengan sistem akuaponik.

Dosen Fakultas Pertanian UMY, Lestari Rahayu, menjelaskan bahwa limbah air wudhu memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali dalam sistem budidaya terpadu.

“Secara rata-rata, setiap jamaah menghasilkan 10–15 liter air wudhu per hari. Melalui sistem sirkulasi akuaponik, limbah cair tersebut kini bermanfaat sebagai nutrisi bagi tanaman dan media budidaya ikan,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

Dalam kegiatan yang menyasar marbot, remaja masjid, serta warga Padukuhan Karangwuni dan Kocoran Baru, mereka mengusung konsep budidaya ikan dalam ember (budikdamber) yang dikombinasikan dengan tanaman sayur.

BACA JUGA : Guru Besar UMY Ungkap AI Tak Pernah Netral, Masyarakat Rentan ‘Dibohongi’ Teknologi

BACA JUGA : Mahasiswa FH UMY Tantang Pasal UU LLAJ ke MK Usai Alami Kecelakaan Akibat Puntung Rokok

Dalam pelaksanaannya, tim menghadirkan Muhammad Farhan, praktisi sekaligus pemilik Karya Farm, untuk memberikan pelatihan teknis kepada warga. Dia memaparkan bahwa sistem ini sangat cocok diterapkan di lingkungan rumah tangga dengan lahan terbatas.

Tak hanya itu, warga yang mengikuti kegiatan juga diberi kesempatan untuk mengembangkan sistem ini secara mandiri di rumah.

"Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas penerapan teknologi akuaponik berbasis limbah air wudhu, sekaligus mendorong kemandirian pangan masyarakat secara berkelanjutan," terangnya.

Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari sektor industri. Perwakilan Warung Spesial Sambal (SS), Bagas Adhiputro, menyatakan ketertarikan terhadap konsep tersebut.

BACA JUGA : Pakar HI UMY Nilai Diplomasi Prabowo Terjebak FOMO dan Narasi Antek Asing

BACA JUGA : Kasus Aurelie Moeremans, Psikolog UMY Ungkap Pola Manipulasi Pelaku dan Bahaya Grooming pada Anak

“Saat ini Warung SS memiliki program kebun produktif. Meskipun budidaya ikan sempat gagal panen, pemilik menyarankan kami tetap fokus pada budidaya tanaman terlebih dahulu,” jelasnya.

Menurutnya, sistem akuaponik ini berpotensi mendukung efisiensi bahan pangan di lingkungan usaha.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: