Akhir Tahun, Pemkot Yogyakarta Kumpulkan Budayawan Bahas Laku Hidup
Diskusi Kebudayaan "Niti Laku, Nata Semu Kabudayan" sebagai momentum refleksi akhir tahun 2025, Rabu (31/12/2025), dihadiri budayawan, akademisi, praktisi seni, dan pemangku kepentingan membahas evaluasi program kebudayaan Yogyakarta sebagai Kota Budaya.--Dok. Pemkot YK
Yetti menjelaskan, sepanjang 2025 fokus program Dinas Kebudayaan diarahkan pada publikasi budaya dan penguatan jejaring melalui pengembangan kawasan heritage. Kota Yogyakarta juga menjadi tuan rumah Rakernas XI JKPI dengan rangkaian kegiatan seperti Indonesian Street Performance, Pasar Malam Indonesia, Festival Sastra, Kotabaru Heritage Film Festival, hingga Jogja Historical Orchestra.
Selain itu, penguatan potensi budaya dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti Kampung Menari, pembinaan Rumah Budaya Kalurahan (RKB), festival seni tingkat kota, kompetisi bahasa dan sastra, gelar upacara adat, pelatihan dalang, hingga Semarak Keistimewaan Yogyakarta.
BACA JUGA : Larangan Sampah Organik ke Depo Berlaku 1 Januari 2026, Pemkot Yogyakarta Siapkan Sistem Baru
BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Targetkan Pasar Terban Beroperasi Penuh Mulai 10 Januari 2026
Pada 2025, Dinas Kebudayaan juga meluncurkan Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan yang kini semakin mengukuhkan kawasan tersebut sebagai ruang ekspresi dan atraksi budaya melalui event rutin seperti Jogja Culture Show dan Pasar Minggu.
Memasuki 2026, sejumlah program baru telah disiapkan, antara lain sosialisasi cagar budaya melalui kerja bakti bersama masyarakat, optimalisasi layanan JUMADI, peningkatan aktivitas budaya di Taman Budaya Embung Giwangan, serta peningkatan layanan kawasan Malioboro, termasuk penyediaan toilet mobile, perbaikan tempat sampah, optimalisasi lampu budaya, dan penataan tata kelola event.
Dalam diskusi tersebut, penggiat seni RM Altianto Hendriawan turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap aktivitas seni budaya yang selama ini bersifat kolaboratif. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kota, kampung, komunitas, kampus, dan Keraton dalam setiap perhelatan kebudayaan.
“Ke depan, kemandirian pelaku seni perlu terus didorong, tidak hanya melalui dukungan pendanaan, tetapi juga pendampingan, penguatan jejaring, dan perluasan kerja sama dengan berbagai mitra di luar pemerintah daerah,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: