Kisah Seniman Mural Eko Virgi asal Yogyakarta yang Mengalirkan Seni dari Hati
Seniman mural Yogyakarta Eko Darwanto, yang lebih dikenal dengan nama panggung Eko Virgi, sudah menekuni dunia seni sejak awal 1990-an dengan memiliki perjalanan karier yang penuh warna. --Foto: Anam AK/diswayjogja.id
“Itu mural yang besar, saya lukis Gunung Merapi, Tugu Jogja, sampai ke suasana kampung. Tapi sayangnya saya minim dokumentasi pribadi,” ceritanya sambil tersenyum.
Eko juga sempat mengerjakan mural bertema PSIM Jogja, klub sepak bola kebanggaan Yogyakarta, yang dibuat bersama komunitas Braja Shelter di belakang kantor KUA Ngampilan.
BACA JUGA : 9 Seniman dan 20 Pengelola Bangunan Cagar Budaya Terima Penghargaan dari Pemkot Yogyakarta
BACA JUGA : Penghargaan Seniman dan Budayawan Yogyakarta, Didik Ninik Thowok Raih Seniman Kategori Pelestari Seni
Dia bertugas menggambar wajah-wajah tokoh PSIM secara realis, sementara rekan-rekannya menangani lettering.
Meski dikenal sebagai seniman mural, Eko menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam aksi mural-mural yang bernuansa kritik sosial yang sempat ramai diberitakan, terutama yang bersinggungan dengan aparat.

Seniman mural Yogyakarta Eko Darwanto, yang lebih dikenal dengan nama panggung Eko Virgi, sudah menekuni dunia seni sejak awal 1990-an dengan memiliki perjalanan karier yang penuh warna. --Foto: Anam AK/diswayjogja.id
“Saya gambar untuk dinikmati. Bukan mural jalanan yang provokatif. Saya murni berkesenian, bukan aktivisme,” tegasnya.
Setelah keluar dari dunia formal kerja pada tahun 2018, Eko sempat membantu usaha keluarga dalam distribusi es batu ke kantor-kantor minuman segar.
BACA JUGA : Seniman dan Budayawan Ingatkan Yogyakarta Punya Potensi Besar Membangun Indonesia Menyala
BACA JUGA : Budayawan Kota Tegal Dorong Perguruan Tinggi Teliti Simbol Karakter Daerah
Namun sejak pandemi Covid-19 dan wafatnya sang ayah, dia mulai menekuni dunia klitikan, khususnya berjualan stiker keliling di pasar-pasar tradisional sesuai hari pasaran seperti Wage di Pengasih hingga Pasar Kliwon di Bantul.
Meskipun pekerjaannya kini lebih beragam, dari jual beli sepeda hingga kerajinan stiker, Eko tetap membuka diri terhadap pesanan mural dan karya seni sesuai permintaan.
“Dulu juga sempat airbrush mobil, lukis dinding TK, bahkan ikut proyek desain. Tapi kalau ditanya saya ini seniman apa, ya saya bilang saya seniman. Muralis, tapi juga desainer,” tuturnya merendah.
Untuk generasi muda, Eko berpesan agar tetap mengasah keterampilan manual di tengah era digital.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: