SLEMAN, diswayjogja.id – Kemarau panjang di Daerah Istimewa Yogyakarta belum benar-benar berakhir. BMKG dalam peringatan dini kekeringan meteorologis periode 11–20 Oktober 2026 masih menetapkan sejumlah wilayah DIY dalam kategori Awas, termasuk Bantul dan Gunungkidul. Sementara itu, Sleman juga masih menghadapi dampak kekurangan air selama musim kemarau. Kondisi ini menjadi ancaman bagi tanaman pertanian, termasuk kopi di lereng Gunung Merapi.
Di Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, sejumlah tanaman kopi dilaporkan mati akibat panas dan kekurangan air. Sebagian tanaman lainnya masih bertahan, tetapi kondisinya memprihatinkan.
Daun-daun kopi mulai mengering. Ada tanaman yang sebagian daunnya masih hijau, tetapi sebagian lainnya sudah layu dan mengering. Tanaman-tanaman itu seolah sedang berjuang bertahan hidup di tengah cuaca yang panas.
Lurah Kepuharjo, Heri Suprapto, menyebut kondisi tanaman kopi di wilayahnya kini beragam. Ada yang masih bisa bertahan, ada pula yang sudah tidak terselamatkan.
BACA JUGA : Kekeringan Masih Berlanjut Melanda Gunungkidul, Ratusan Tangki Air Disalurkan ke Lima Kapanewon
BACA JUGA : Kekeringan Gunungkidul Tak Hanya di Sisi Selatan, Sisi Utara Saat Ini Juga Mulai Kekeringan, Ini Sebabnya
“Tanaman kopi di banyak lahan disini banyak yang mati karena panas dan kekurangan air. Ada tanaman yang masih semaput (pingsan), daunnya sebagian kering tetapi masih ada yang hijau. Namun, ada juga yang sudah koit (mati), semua daunnya mengering,” ujar Heri, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Heri, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata dampak kemarau terhadap tanaman kopi di wilayah Kepuharjo. Kekurangan air membuat tanaman kesulitan mempertahankan kesegarannya, terlebih ketika cuaca panas berlangsung berkepanjangan.
Perbedaan kondisi tanaman terlihat dari daun-daunnya. Pada tanaman yang masih bertahan, sebagian daun tetap hijau meski bagian lainnya mulai mengering. Sementara pada tanaman yang mati, seluruh daunnya telah mengering.
Situasi ini menjadi perhatian bagi warga yang mengandalkan lahan pertanian di kawasan lereng Merapi. Tanaman kopi yang mati berpotensi menimbulkan kerugian, terutama jika jumlahnya terus bertambah.
BACA JUGA : Saat Air Bersih Sangat Dibutuhkan Gunungkidul, Para Relawan Kekeringan Bahu Membahu Turun Membantu
BACA JUGA : Peduli Dampak Kekeringan, Ra’Nggagas Solidarity Salurkan 40 Tangki Air ke Gunungkidul
BMKG melalui peringatan dini iklim Oktober 2026 juga mengingatkan bahwa ancaman kekeringan meteorologis masih terjadi di sejumlah wilayah DIY. Karena itu, ketersediaan air menjadi faktor penting bagi keberlangsungan tanaman selama musim kemarau.
Kondisi kopi di Kepuharjo terdampak kekeringan. Kebutuhan air tidahk hanya warga yang membutuhkan air bersih, tetapi juga tanaman yang menjadi bagian dari aktivitas pertanian masyarakat.
Di lereng Merapi, ketika air semakin sulit tersedia dan panas terus menyengat, sebagian tanaman kopi masih berusaha bertahan. Namun, sebagian lainnya telah lebih dulu menyerah.