"Pemerintah daerah harus membuat program itu. Ini tidak boleh hanya menunggu, harus ada program serentak berbasis masyarakat," jelasnya.
Agus menyebut ada korelasi antara kekeringan dan kebakaran. Menurutnya, kondisi kering membuat orang cenderung membakar sesuatu, seperti di lahan pertanian, dan hal kecil pun bisa memicu kebakaran.
BACA JUGA:BMKG: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Utara Sleman dan Kulon Progo, Gelombang Laut Capai 4 Meter
BACA JUGA:BMKG Prediksi Musim Hujan DIY Mundur, Utara Kulon Progo dan Sleman Mulai November
Dirinya juga menyebut penelitian tentang kekeringan masih sedikit dibanding banjir, termasuk mendorong universitas menggerakkan riset solusi kekeringan.
Agus juga mendorong gerakan restorasi sungai tidak berhenti pada pembersihan aliran air. Menurutnya, sungai yang sehat dapat menjadi ruang pengembangan wisata, UMKM, dan lapangan kerja.
"Restorasi sungai harus menjadi gerakan masyarakat, bukan hanya program pemerintah," imbuh Agus.
Dia menjelaskan restorasi sungai mencakup kualitas dan kuantitas air, ekologi, morfologi sungai, kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta regulasi dan kelembagaan. Masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, swasta, organisasi nonpemerintah, media, guru, dan pelajar dapat menjadi bagian dari komunitas sungai. Pendekatan Education for Sustainable Development (ESD) disebutnya penting untuk membangun kesadaran.
Agus mencontohkan wisata sungai seperti Bendung Lepen di Yogyakarta dan Kali Pusur di Klaten, yang membuka ruang bagi kuliner, jasa, perdagangan, dan edukasi.
"Restorasi sungai, lingkungan sehat, wisata, UMKM, lapangan kerja, pendapatan masyarakat, kemudian masyarakat menjaga sungai. Siklus seperti ini yang harus dibangun," tandasnya.