Dalam kondisi seperti itu, kemampuan menikmati proses dan menjaga keseimbangan kehidupan dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang tidak mudah mengalami stres atau tekanan psikologis.
BACA JUGA : I ndonesia Mengajar Dorong Pembelajaran yang Bermakna dan Menggembirakan bagi Anak Gunungkidul
BACA JUGA : Kabar Menggembirakan!! Menteri PKP–PWI Fasilitasi 5.000 Rumah Bersubsidi Bagi Wartawan
“Orang Jawa punya konsep bahwa hidup itu bukan hanya soal hasil. Prosesnya juga penting. Bagaimana kita menjalani hidup, berhubungan dengan orang lain, dan menikmati apa yang ada,” ujarnya.
Yang ketiga menurut Agus adalah Kekayaan Sosial. Filosofi ketiga yang menurut Agus tidak kalah penting adalah kekayaan sosial. Dalam masyarakat Jogja, hubungan antarwarga, keguyuban, gotong royong, dan rasa memiliki terhadap lingkungan masih menjadi bagian dari kehidupan sosial.
“Orang bisa saja secara ekonomi tidak terlalu kaya, tetapi kalau memiliki hubungan sosial yang baik, merasa diterima, punya tetangga yang peduli, dan punya lingkungan yang membuatnya merasa aman, itu juga merupakan kekayaan,” katanya.
Menurut Agus, kekayaan sosial tersebut sering kali tidak tercermin dalam angka pendapatan per kapita. Padahal, hubungan sosial dapat memberikan rasa aman dan makna dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi kalau kita bicara kebahagiaan, jangan hanya melihat hardware-nya. Rumahnya seperti apa, mobilnya apa, penghasilannya berapa. Ada Human Operating System atau HOS, yaitu bagaimana seseorang memproses dan memaknai kehidupannya,” jelas Agus.
Konsep Human Operating System (HOS) dapat digunakan sebagai standar untuk memahami cara manusia menjalankan kehidupannya. Jika perangkat keras atau hardware dianalogikan sebagai kondisi ekonomi dan material, maka HOS menggambarkan nilai, pola pikir, keyakinan, serta cara seseorang merespons berbagai keadaan.
Agus menilai masyarakat Jogja memiliki modal budaya yang membuat kehidupan tidak selalu diukur dari pencapaian material.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kebahagiaan masyarakat Jogja mungkin bukan hanya “berapa besar isi dompet kita?”, tetapi juga “sistem apa yang berjalan di dalam kepala dan hati kita?” tutupnya.