Ikon Mata Hati dan Ojo Dumeh Karya Gus Bill, Simbol Otentik Pesan Moral Lewat Seni Mural

Jumat 03-04-2026,11:19 WIB
Reporter : Syamsul Falaq
Editor : Syamsul Falaq

BREBES, diswayjogja.id - Gempuran teknologi Artificial Intelligence, tak menyurutkan langkah seniman mural di Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Sebab, melalui sentuhan warna, pola ikonik hingga konsistensi edukasi berisi kritik sosial menjadi alasannya.

Prinsip itulah, yang masih menjadi spirit dan motivasi Gus Bill kreator mural kota bawang untuk terus berkreasi dan berekspresi lewat mural. Sebab, tidak hanya menjadi pengingat tapi teknisnya membuat karya tetap bernuansa edukatif dan ikonik.

Seniman mural bertubuh gempal ini, mengaku ingin terus berkreasi l ewat seni mural untuk menekankan pesan moral dan kritik sosial. Pasalnya, lewat coretan warna dan pola tidak sekadar melukis tembok, tetapi juga menghidupkan ruang publik dengan pesan sosial yang kuat dan mudah dipahami masyarakat.

"Bagi saya, mural bukan sekedar estetika, tapi media komunikasi yang jujur dan kritis. Sebab, punya ciri ciri khas visual yang ekspresif, penuh simbol, warna kontras, serta elemen mata hati dan Ojo Dumeh menjadi ikon khas," ungkapnya kepada Disway Jogja di sela-sela kegiatannya.

BACA JUGA : Sambut HUT ke-269, Pelajar Yogyakarta Hiasi Kota Lewat Lomba Mural

BACA JUGA : Kisah Seniman Mural Eko Virgi asal Yogyakarta yang Mengalirkan Seni dari Hati

Perjalanan berkarya membuat mural, dimulai sejak pria berkacamata dan berambut gondrong ini dari ruang sederhana. Seperti, tembok-tembok jalanan dengan bekal semangat dan keberanian berekspresi. Gus Bill menjadikan jalan sebagai galeri terbuka, dan seiring waktu membuat karyanya mulai dikenal luas.

Dengan konsistensi tema sosial dan kemanusiaan, gaya visual yang kuat dan mudah dikenali. Gus Bill selalu berhasil, menuangkan pesan moral yang relevan kondisi lmasyarakat sekaligus memberikan motivasi mengusung semangat, Be your self, Gunakan Matahati, Ojo Dumeh.

"Saya ingin mengembalikan mural ke fungsi awalnya, sebagai suara rakyat jalanan yang bebas berekspresi menjadi diri sendiri lewat seni berprinsip kuat dan berkarakter," terangnya.

Dalam setiap karya mural, lanjut Gus Bill, simbol mata selalu ditampilkan sebagai representasi kesadaran dan kejujuran batin. Bentuk elemen organik dan ornamen ini, menggambarkan dinamika kehidupan sehari-hari. Sedangkan warna warni mencolok dan kontras menjadi magnet agar lebih mudah mendapat perhatian publik.

BACA JUGA : Jangan Takut Mural: JPW Ingatkan Polisi Yogyakarta Lebih Bijak Sikapi Ekspresi Rakyat

BACA JUGA : Mural di Yogyakarta Dihapus, Seniman Sebut Pembungkaman Eskpresi Seni

"Selain ikon mata hati, perpaduan tangan, mata, dan ornamen simbol yang menggambarkan interaksi manusia dengan hati nurani," ujarnya.

Gus Bill menuturkan, meski berangkat dari setiap sudut tembok jalanan membawa dampak dan kontribusi yang semakin luas lewat karya seni mural. Terbukti, ia selalu terlibat dalam berbagai kegiatan mural komunitas di Brebes dan sekitarnya. Fokusnya, mengisi ruang publik dengan karya edukatif dan inspiratif sebagai gerakan sosial melalui seni visual.

"Mengangkat identitas lokal melalui pendekatan seni kontemporer. Karya mural setiap seniman, pasti kerap menonjolkan ciri khasnya. Termasuk, menjadikan latar dokumentasi, edukasi seni, hingga inspirasi generasi muda yang ingin berkarya di jalur kreatif," jelasnya.

Kategori :