BACA JUGA : Jejak Bung Karno di Blitar, Kader PDI Perjuangan Jogja Dalami Nilai Pancasila
Titik membawa ingatan hadirin mundur ke tahun 1990.
Saat itu, ia baru saja menjadi mahasiswa baru di fakultasnya.
Atmosfer kampus, katanya, masih kental dengan nuansa militeristik.
Tradisi ospek dijalankan dengan cara yang bagi generasi hari ini mungkin sulit dibayangkan.
“Tahun 1990, ketika saya pertama kali menjadi mahasiswa di fakultas, di tengah atmosfer kampung yang masih berbau militeristik, para senior mengospek dengan cara yang, bagi generasi hari ini, mungkin tidak pernah terbayangkan,” kenangnya.
Situasi itu, lanjutnya, membuat nyali siapa pun bisa ciut. Namun di tengah tekanan dan ketegangan itu, hadir sosok yang berbeda.
BACA JUGA : Warkop Perjuangan Catat Lonjakan Pengunjung Saat Buka Dapur Gratis Mahasiswa
BACA JUGA : Warkop Perjuangan Luncurkan Program Shelter dan Perpanjangan Kos untuk Mahasiswa Terdampak Bencana
Seorang senior yang tak hanya tegas, tetapi juga lembut. Sosok itu adalah Bang John.
“Nah, di tengah situasi seperti itu, hadir seorang senior yang sekaligus menjadi abang dan guru bagi saya, dengan kelembutannya,” imbuhnya.
Ia baru menyadari kemudian bahwa banyak orang mungkin keliru menilai John semata dari keberaniannya.
“Di balik keberaniannya sebenarnya tersimpan kelembutan yang luar biasa dalam diri Bang Jon,” lanjutnya.
Perkenalan itu menjadi awal ikatan panjang. Titik mengisahkan bagaimana Bung John, bersama keluarga, rela mendengarkan keluh kesah mahasiswa baru dan mendampingi mereka dalam berbagai kegiatan.
Baginya, pengalaman itu bukan sekadar memori personal, melainkan fondasi nilai yang membentuk keberanian sekaligus empati.
BACA JUGA : Mahasiswa Aceh di Yogyakarta Terjebak Banjir, Terbantu Dapur Gratis dan Bantuan Warkop Perjuangan