Tak Sekadar Bagi Telur, Bantul Tekan Gizi Buruk dari Rumah ke Komunitas

Senin 02-02-2026,13:52 WIB
Reporter : Kristiani Tandi Rani
Editor : Syamsul Falaq

BACA JUGA : Dinkes DIY Konfirmasi Satu Kasus Super Flu H3N2 Subclade K, Pasien Bayi Sudah Sembuh

Ia menjelaskan, pemahaman masyarakat mengenai status gizi anak menjadi kunci penting.

Ia menyebut bahwa banyak orang tua masih menyamakan stunting dengan semua bentuk masalah gizi, padahal terdapat perbedaan mendasar antara kondisi akut dan kronis.

“Kalau diberi pemahaman, status gizi itu sebenarnya ada dua. Status gizi akut diukur dari berat badan, sedangkan status gizi kronis diukur dari tinggi badan,” jelasnya.

Ia menjelaskan pentingnya pemahaman masyarakat tentang perbedaan status gizi akut dan kronis agar penanganan anak dapat dilakukan secara tepat sasaran.

“Jadi, kalau saya pendek, itu berarti ketika kecil dulu mengalami kekurangan gizi. Sementara kalau seseorang terlihat kurus, itu menunjukkan status gizi akut saat ini,” ujarnya. 

Menurut dia, kesadaran ini menjadi dasar dalam menyusun program intervensi. 

BACA JUGA : Muncul Super Flu Varian Baru, Dinkes Kota Yogyakarta Pastikan Belum Ada Lonjakan Kasus

BACA JUGA : Sepanjang Tahun 2025, Dinkesda Brebes Catat 2.257 Kasus Demam Berdarah 11 Pasien Meninggal

Balita dengan masalah gizi akut membutuhkan pemulihan cepat melalui asupan makanan tambahan, sedangkan anak dengan masalah kronis memerlukan pendampingan jangka panjang, mulai dari pola makan hingga lingkungan tumbuh kembang.

“Status gizi akut dilihat dari berat badan, status gizi kronis dilihat dari tinggi badan,” imbuhnya. 

Dinkes Bantul mencatat, sejak program pemberian telur dan makanan tambahan lokal digencarkan, angka wasting dan gizi buruk di sejumlah wilayah mengalami penurunan. 

Hasil ini menjadi indikator awal bahwa pendekatan berbasis pangan bergizi dan edukasi keluarga mulai berdampak nyata.

“Dengan adanya program pemberian telur dan makanan tambahan, sekarang angka wasting dan gizi buruk menurun. Itu berarti programnya berhasil,” sebutnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa stunting masih memerlukan perhatian khusus. 

BACA JUGA : Hasil Lab Keracunan Mahasiswa Ditunggu 7 Hari, Dinkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi

Kategori :