YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Pasar murah bakal kembali digelar sebagai upaya menekan inflasi dan menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh kemantren di Kota Yogyakarta secara bergantian mulai 6 hingga 27 Februari 2026.
Ketua Tim Kerja Ketersediaan dan Pengendalian Harga Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Evi Wahyuni, mengatakan pasar murah merupakan langkah wajib dalam pengendalian inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Idulfitri dan Natal.
“Menjelang HBKN, terutama Idulfitri, kami memang diwajibkan melaksanakan operasi pasar murah sebagai bagian dari pengendalian inflasi. Karena itu, kegiatan ini kami laksanakan di bulan Februari,” ujar Evi dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
BACA JUGA : Pedagang Kios Sudirman Mengadu ke DPRD, Tolak Relokasi ke Pasar Terban
BACA JUGA : Pedagang Mulai Cek Kios, Pasar Terban Yogyakarta Segera Beroperasi
Dalam pasar murah tersebut, berbagai kebutuhan pokok dijual dengan harga di bawah pasar. Komoditas yang disediakan meliputi beras SPHP, beras medium hingga premium, minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, telur, bawang merah, dan bawang putih. Komoditas tersebut dipilih karena permintaannya cenderung meningkat selama Ramadan hingga Lebaran.
Pemkot Yogyakarta menyiapkan total 48 ton bahan pangan bersubsidi untuk 14 kemantren. Sebanyak 11 kemantren masing-masing mendapatkan kuota 3 ton, sementara tiga kemantren yaitu Umbulharjo, Gondokusuman, dan Mergangsan, mendapatkan kuota lebih besar, yakni 5 ton per kemantren.
“Total kuota tahun ini 48 ton. Jumlahnya memang lebih kecil dibandingkan tahun lalu karena adanya kebijakan efisiensi dan refocusing anggaran,” jelas Evi.
Harga bahan pokok di pasar murah dipastikan lebih terjangkau berkat subsidi pemerintah sekitar Rp2.000 per kilogram. Sebagai contoh, harga beras premium kemasan 5 kilogram di pasar murah bisa lebih murah sekitar Rp8.500 hingga Rp10.000 dibandingkan harga pasar.
BACA JUGA : Harga Bahan Pokok di Kota Yogyakarta Awal 2026 Masih Stabil, Cabai dan Minyak Goreng Naik
BACA JUGA : Harga Cabai hingga Emas Dorong Inflasi DIY, Namun Petani Tetap Untung
Evi menyebutkan, kondisi harga bahan pokok di Kota Yogyakarta saat ini relatif stabil dengan pasokan yang terjaga. Namun, potensi peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan Lebaran tetap diantisipasi melalui pasar murah dan berbagai bentuk intervensi pasar lainnya.
“Dari pasar murah harapannya masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhannya dengan belanja di pasar murah tersebut. Jadi tidak usah kemudian berbondong-bondong atau beli banyak di pasar. Pasar murah ini bisa mengurangi permintaan di pasar. Otomatis kalau permintaan di pasar tidak melonjak, harga akan tetap terjaga,” terangnya.
Selain menyasar masyarakat secara langsung, pengendalian harga juga dilakukan melalui operasi pasar untuk pedagang. Pada tahun ini, intervensi bagi pedagang pasar mendapat dukungan dari Perda DIY, khususnya di Pasar Beringharjo dan Prawirotaman yang menjadi pasar pemantau Indeks Harga Konsumen (IHK).